Inspirator Minggu Ini: Riyani Jana Yanti

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 November 2017
Inspirator Minggu Ini: Riyani Jana Yanti

Berbicara mengenai inspirator yang satu ini, karya-karyanya yang bagus sekali jadi penandanya. Riyani Jana Yanti, seorang kreator asal Cirebon, Jawa Barat, yang sudah bergabung di Inspirasi.co sejak Juli 2016 dimana tepatnya karya perdana yang diunggah tertanggal 12 Juli 2016.

Inspirator yang satu ini dilihat dari foto dan karya-karyanya bisa dibilang perempuan yang energik, penuh ide dan pastinya kreatif. Dalam unggahan pertamanya, “Jomblo Ngenes (?)”, curahan hati Riyani malah jadi karya yang sangat layak dibaca yang tak heran akhirnya dibaca oleh banyak orang. Di sini sudah terlihat bakat Riyani sebagai seorang pelamun yang berhasil meramu apa yang ada di pikiran, di mata lalu ehm di hati, menjadi unggahan yang puitis semi sendu. Ia berhasil mengambil alam sebagai latar unggahan yang menarik.

“Tanda Tania (?)” tulisan yang cukup menggebrak di sini. Karya ini secara mendalam mengeksplorasi konflik dua mahasiswi karena perbedaan pandangan politik di kampus. Intrik organisasi kemudian turut mempengaruhi persahabatan mereka. Keren sekali cara Riyani menyelami batin para tokoh dalam fiksi ini.

Fiksi berikutnya, “Hijrahnya Bidadari Neraka (Part 1)” jadi tulisannya yang paling laris dilirik sekaligus menurut kami jadi karyanya yang paling dahsyat. Tak hanya dari segi ide melainkan sekali lagi, cara eksplorasi emosi sang tokoh yang Riyani lakukan bisa benar-benar total. Hal ini karena sang kreator memilih dialog yang pas untuk menggambarkan kemarahan dan kekecewaan sang tokoh utamanya.

Jenis tulisan seperti “Kuas-kuas menangis” ini bisa dibilang langka. Dalam karyanya ini, Riyani benar-benar merealisasikan salah satu fungsi sastra yakni menyuarakan pendapat atau kegelisahan tentang fenomena sosial. Asyiknya, Riyani menuangkannya dengan tulisan singkat, puitis dan banyak memakai simbol.

“Buku Patah Hati” jadi tulisan yang lebay tetapi tetap asyik dibaca. “Jika buku bisa ngomong maka..” kurang lebih begitu isi unggahannya ini. Karya ini mungkin bisa jadi renungan pembaca agar dapat memperlakukan semua buku sama adil, sama rata, tak lantas meninggalkannya. Bisakah kita demikian?
 

  • view 53