Tahu Tidak? 5 Sastrawan Ini Juga Pahlawan Nasional Lho..

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 10 November 2017
Tahu Tidak? 5 Sastrawan Ini Juga Pahlawan Nasional Lho..

Hari ini, 72 tahun silam, terjadi pertempuran pertama paska Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 antara tentara nasional denga pasukan Britania Raya di Surabaya. Perang terbesar dan tersulit dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia ini pun kini diperingati sebagai Hari Pahlawan yang jatuh tepat hari ini di edisinya yang ke-72.

Presiden Joko Widodo pun pada 9 November 2017 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional ke empat tokoh nasional, yakni M. Zainuddin Abdul Madjid tokoh asal Nusa Tenggara Barat, Laksamana Malahayati (Keumalahayati) tokoh asal Nanggroe Aceh Darussalam, Sultan Mahmud Riayat Syah tokoh asal Kepulauan Riau, dan Lafran Pane tokoh asal Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemberian gelar ini pun membuat total pahlawan nasional menjadi 173 orang, 160 laki-laki dan 13 wanita.

Dari 173 tokoh inspiratif tersebut ada lima sastrawan yang turut memperoleh anugerah tersebut. Sudah tahu siapa saja mereka? Jika belum, yuk disimak:

  1. Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka

Banyak dari kita yang pasti tak asing dengan bapak Hamka, yang ternyata nama panjang beliau adalah Abdul Malik Karim Amrullah. Hamka merupakan nama pena beliau. Lahir di Nagari Sungai Batang, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908, bapak Hamka wafat di Jakarta pada 24 Juli 1981. Seorang ulama, wartawan, politisi hingga penulis, bapak Hamka ini paling kita kenal sebagai nama universitas, yakni Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA yang terletak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Nama bapak Hamka melambung sebagai sastrawan berkat dua novelnya, “Di Bawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, yang masih tenar hingga sekarang. Selama masa perjuangan, beliau turut bergerilya melawan penjajah bersama dengan Barisan Pengawal Nagari dan Kota menelusuri hutan pegunungan di Sumatera Barat demi menggalang dukungan rakyat menentang kembalinya penjajah Belanda.

  1. Abdoel Moeis

Beliau lahir pada 3 Juli 1883 di Sungai Puar, Sumatera Barat lalu meninggal dunia pada 17 Juni 1959 di Bandung, Jawa Barat. Seorang wartawan dan sastrawan, beliau juga seorang tokoh politik, yang menjadi pengurus besar Sarekat Islam. Karya beliau yang paling kita tahu adalah novel “Salah Asuhan” yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1928. Buku ini dianggap sebagai salah satu karya sastra Indonesia modern awal terbaik sepanjang masa.

Demi memperoleh izin terbit pada masa itu, sebuah novel harus memakai bahasa Melayu formal dan menghindari tema yang dapat menyulut pemberontakan. Sempat ditolak terbit oleh Balai Pustaka akhirnya buku ini pun harus ditulis ulang dengan memasukkan karakter Eropa dengan citra baik.

  1. Tengkoe Amir Hamzah

Bernama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera, kita lebih mengenal beliau dengan nama penanya, Amir Hamzah. Lahir pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Sumatera Timur lalu wafat pada 20 Maret 1946 di Binjai, Langkat, beliau masuk ke dalam sastrawan Indonesia angkatan Poedjangga Baroe. Beliau merupakan keturunan bangsawan Melayu Kesultanan Langkat di Sumatera Utara yang sempat mengenyam pendidikan SMA di Surakarta sekitar 1930. Ia turut aktif dalam gerakan nasionalisme di sana.

Selama hayatnya, Amir Hamzah telah menulis 50 puisi, 18 buah puisi prosa dan beragam karya lainnya dimana karya beliau dipengaruhi oleh budaya Melayu asli, Islam, Kekristenan dan Sastra Timur. Puisi Amir kental dengan topik cinta, agama, yang sering mencerminkan konflik batin mendalam. Sebagian puisinya diterbitkan dalam dua kumpulan, “Njanji Soenji (EYD: “Nyanyi Sunyi”, 1937) dan “Boeh Rindoe (EYD: “Buah Rindu”, 1941). Pada 1932, ia mendirikan majalah sastra Poedjangga Baroe. Berkat puisinya, Amir disebut sebagai “Raja Penyair Zaman Poedjangga Baroe” (EYD: “Raja Penyair Zaman Pujangga Baru”) dan satu-satunya penyair tanah air berkelas internasional dari zaman pra-Revolusi Nasional Indonesia.

  1. Mr. Muhammad Yamin, S. H.

Lahir pada 24 Agustus 1903 di Talawi, Sumatera Barat lalu wafat pada 17 Oktober 1962 di Jakarta, beliau dikenal sebabai sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus dan ahli hukum. Pelopor Sumpah Pemuda 1928 ini ternyata juga aktif menulis. Pada 1920an, ia memulai karir kepenulisannya dengan menulis dalam bahasa Melayu dalam jurnal Jong Sumatera, sebuah jurnal berbahasa Belanda pada 1920. Pada 1922, beliau tampil perdana sebagai penyair dengan puisinya, “Tanah Air”, dimana tanah airnya di sini adalah Minangkabau. “Tanah Air” menjadi kumpulan puisi modern Melayu pertama yang pernah dipublikasikan.

Koleksi kedua, “Tumpah Darahku” terbit pada 28 Oktober 1928, yang penting sebab saat itu beliau dan beberapa bapak pendiri bangsa memutuskan menghormati satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Tahun itu pula terbit drama beliau, “Ken Arok dan Ken Dedes”. Bapak Muhammad Yamin banyak memakai bentuk soneta yang dipinjam dari sastra Belanda. Ia juga lebih mematuhi norma klasik bahasa Melayu. Selain menulis sajak, beliau juga mempublikasikan banyak drama, esai, novel sejarah dan puisi.

  1. Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad

Dikenal dengan nama pena Raja Ali Haji, beliau lahir di Selangor sekitar 1808 lalu wafat di pulau Penyengat, Kepulauan Riau sekitar 1873. Raja Ali Haji merupakan pencatat pertama dasa tata bahasa Melayu melalui buku “Pedoman Bahasa”, yang lalu menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu inilah yang pada Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan menjadi bahasa nasional, bahasa Indonesia.

Karya beliau yang paling kita kenal adalah “Gurindam Dua Belas” (1847) yang menjadi pembaharu arus sastra pada eranya. Buku beliau “Kitab Pengetahuan Bahasa”, yakni Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama, menjadi kamus ekabahasa pertama di tanah air. Syair beliau lainnya, yaitu “Syair Siti Shianah”,”Syair Suluh Pegawai”, “Syair Hukum Nikah” dan “Syair Sultan Abdul Muluk”.

Sumber bacaan: Wikipedia

  • view 118