Mengapa Kita (Tidak) Suka Cerita Horor?

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 November 2017
Mengapa Kita (Tidak) Suka Cerita Horor?

Salah satu admin redaksi di Inspirasi.co termasuk orang yang penakut. Saking penakutnya ia tak berani melihat film horor betapa pun ramainya film tersebut diperbincangkan di media. Pun demikian, ia tetap mengikuti berita jika ada film yang sedang hits di kalangan pencinta film, tak terkecuali bila film tersebut bergenre horor. Sebagai contoh, ia menikmati meme kreatif Pengabdi Setan, film horor garapan Joko Anwar, yang sampai sekarang masih ramai ditonton orang tetapi ia tidak berani menontonnya.

Jika inspirator termasuk jenis orang seperti admin ini pernah tidak kalian berpikir mengapa level kesukaan kalian terhadap cerita mencekam rendah sedangkan ada teman kalian yang sangat mengidolakan film horor? Jika iya, semoga kalian betah membaca artikel ini hingga akhir biar kalian tak serta merta dicap orang yang penakut, LOL.

Dr. Margee Kerr, seorang staf sosiologi ScareHouse sekaligus pengajar pada Robert Morris University dan Chatham University, berbagi banyak hal tentang psikologi rasa takut manusia kepada Allegra Ringo dari The Atlantic.

Menurut Margee Keer, hal yang membedakan beberapa orang suka orang sedangkan yang lain kurang suka selain karena preferensi pribadi melainkan juga oleh kadar zat kimiawi yang ada di dalam otak tiap orang. Riset dari David Zald, seorang profesor Psikologi dan Psikiatri Venderbilt University, menunjukkan tiap orang mempunyai respons berbeda jika berada dalam situasi yang menakutkan.

Salah satu hormon utama yang keluar saat merasa takut adalah dopamine. Ternyata beberapa individu mungkin memperoleh  lebih banyak dorongan dari dopamine ini dibanding yang lain. Pada dasarnya beberapa otak manusia kekurangan apa yang Zald sebut sebagai ‘rem’ untuk mengeluarkan dan menyerap dopamine di dalam otak. Hal inilah yang membuat beberapa orang akan sangat menikmati kisah menakutkan dan mendebarkan sedangkan yang lain kurang begitu suka.

Banyak orang yang juga menyukai situasi menyeramkan sebab meninggalkan rasa percaya diri setelah kondisi tersebut berakhir. Agar bisa sungguh-sungguh menikmati situasi yang menakutkan kita harus yakin kita berada di lingkungan yang aman. Menonton film mengerikan adalah tentang terpicunya respons ‘kabur atau lawan’ dimana aliran adrenalin, endorphin dan dopamine mengalir deras tetapi pastikan kalian menikmatinya dalam kondisi yang benar-benar aman.

Pertanyaan berikutnya yang mungkin muncul di benak kalian: mengapa orang suka menakuti dirinya sendiri atau memilih berada di situasi yang menggetarkan?

Jauh sebelum ada film horor atau wahana yang memicu adrenalin dewasa ini, manusia zaman dulu memang sudah gemar menakuti diri sendiri melalui banyak metode, seperti berbagi kisah horor, jatuh dari tebing tinggi dan menyengaja muncul tiba-tiba untuk menakutkan kawan di dalam gua yang gelap. Alasannya beragam. Ada yang ingin membangun kekompakan kelompok, mempersiapkan anak menghadapi masa depan yang mungkin menghadapkan mereka dengan situasi mengerikan hingga belajar mengendalikan perilaku.

Namun dalam beberapa abad belakangan menakuti diri sendiri lebih disebabkan karena ingin bersenang-senang, hal yang lalu dimanfaatkan pebisnis hiburan meraup keuntungan besar.

  • view 50