Karya Pilihan Minggu Ini

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Oktober 2017
Karya Pilihan Minggu Ini

Tulisan karya Afridany Ramli : "Perawan di Tanah Rencong"


Catatan redaksi: Asyik sekali membaca tulisan dengan gaya tutur nyinyir sekaligus menyampaikan pesan mendalam seperti yang ditulis oleh Afridany Ramli ini. Pertama-tama membaca fiksi ini bisa membuat pembaca tertawa sebal atas sikap Laila. Kebiasaannya yang keranjingan menonton televisi, kurang sopan terhadap kakak sendiri seolah berbalik dengan tingkah lakunya di luar. 

Tapi toh kita tak bisa hanya menyalahkan sikap Laila. Keluarga dan lingkungan bisa turut berperan membuatnya seperti itu. Cerita ini bisa membuat gatal orang ingin berkomentar. Bisa saja Laila menjadi perpaduan antara generasi milenial yang ada dinilai segelintir dari mereka malas gerak atau mager dengan budaya tradisional yang salah kaprah. Budaya di sini maksudnya mendidik perawan dengan membiarkannya di rumah tidak melakukan hal kreatif dan produktif. Belum lagi bisa juga berpendapat soal konflik keluarga dimana menantu tinggal di rumah mertua. Cerita rekaan klasik yang tak pernah bosan memantik komentar. Itulah keunggulan fiksi ini.

 

Video karya Syafiq Santosa : "Kepintaran vs Kebodohan"


Catatan redaksi: Untuk ukuran promosi sebuah perpustakaan daerah, apalagi yang dikelola pemerintah, video berisi ajakan ini sangat kurang. Jika dibandingkan dengan karya-karya anak muda yang merogoh kocek sendiri, video ini jauh berada di bawahnya.

Namun jika ditelisik, video ini punya konsep yang sederhana tetapi rumit. Kita tidak hanya disuguhkan pengambilan gambar yang tidak membosankan tetapi juga ikut berpikir ke dalamnya dan mengira-ngira. Ending yang dibuat tentu bukan tanpa arti dan menyisakan satu kesimpulan dalam benak masing-masing penontonnya bahwa kebodohan akan selalu kalah dengan kepintaran dan untuk memperoleh kepintaran mesti membaca buku di perpustakaan. Keren!

 

 

Foto karya Ridhayani Purba : "2 Sisi Berbeda"


Catatan redaksi: Ridhayani memberikan judul ‘Sisi Berbeda’ pada fotonya. Yang ia maksudkan di sini, tentu saja bagaimana manusia memandang bumi dari sudut kecil saja, sudut yang berbeda. Bukan pandangan mainstream seperti bumi mengitari matahari dan bagaimana ia berputar tanpa henti. Bersama matahari, awan dan langit serta sedikit editan yang membuat warna-warna dalam foto ini menjadi berbeda Ridhayani menyuguhkan satu sudut pandang sederhana yang menantang cahaya. Matahari kecil menyempil di antara awan dan sinarnya menyusup lembut menyinari semesta.

Sayangnya pengambilan gambar yang cenderung asalan dalam aritan tidak memperhatikan objek lain yang menyembul dan mengganggu di sisi bawah kanan dan kiri membuat foto ini sedikit tidak enak dipandang tetapi pantas untuk direnungkan.

 

Grafis karya Lis Maulina : "Yang Luruh Satu - satu"


Catatan redaksi: Walau kurang begitu rapi tetapi grafis karya Lis ini cocok menjadi sampul buku. Gambaran seorang gadis manis membawa bunga cantik namun dengan wajah tertunduk murung tak pelak menyiratkan kedukaan. Sampul yang pilu nan cukup membuat orang simpati setidaknya untuk bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya. Terus asah kemampuanmu ya, Lis..

Audio karya Simfoni Negeri : "Pergi"

 

Catatan redaksi: Sedari awal musik sudah menghipnotis namun semakin ke tengah semakin tidak sesuai dengan isi puisi yang dibacakan. Musik cenderung seperti musik ingin berperang atau sedang dalam pertempuran padahal isi puisinya yakni tentang kepergian. Yang menjadi menguatkan adalah jenis suara dan teknik pembacaannya yang tidak mainstream, penuh penekanan yang sesuai dengan makna kata demi kata.

Sayangnya, hingga ujung puisi ini didengarkan, kita masih belum bisa menerka akan kemana dan mengapa si tokoh dalam puisi ini pergi. Sebab kata-kata yang tersirat di dalamnya seolah hanya berputar-putar tanpa punya arti yang jelas. Di atas semuanya, harmonisasi kata-kata dan musik menjadi kelebihan pembacaan puisi ini.

  • view 51