Inspirator Minggu Ini: Nazlah Hasni

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Oktober 2017
Inspirator Minggu Ini: Nazlah Hasni

Luar biasa kreator yang satu ini, Nazlah Hasni. Di tengah kesibukannya mengurus dan membesarkan ke empat buah hatinya, kreator asal Malang ini masih menyempatkan diri menulis lalu membagikannya di sini. Pertama-tama salut sekali, Nazlah!

Selain kagum dengan cara Nazlah membagi waktu hingga bisa giat menulis, kami juga takjub dengan topik yang ia bahas, dimana Nazlah banyak mengunggah opininya terkait tema yang sedang hangat diperbincangkan orang, terutama di media sosial. Dengan kata lain, menjadi ibu tak membuat Nazlah ketinggalan informasi. Ia selalu menjaga dirinya agar ikut perkembangan zaman.

Menelurkan 38 karya sejak 16 Agustus 2016, Nazlah konsisten mengisi galeri karyanya di sini dengan tulisan opini kece dan catatan harian yang layak disimak.  Nazlah sering mengawali tulisannya dengan menyebut dirinya emak-emak yang membuat Inspirasi.co makin kaya saja menampung pendapat berbagai sudut pandang dari berbagai latar belakang.

Unggahan perdananya, “Wahai bapak pemerintah, bisakah mempertahankan status WNI pak Archandra?” cukup laris menuai ‘view’. Tulisan ini diunggah menanggapi maraknya kasus dual kewarganegaraan Archandra Tahar, yang diberhentikan usai singkat sekali menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM.

Pendapatnya tentang sekolah penuh dalam ‘Fullday School Sejati’ membuat terharu sebab ditulis dari sudut pandang seorang ibu yang menerapkan ajaran Islam dalam mendidik anak-anaknya.

Nazlah turut berbicara ‘pedas’ lengkap dengan solusinya saat membahas polemik harga cabai yang sempat meroket dalam ‘Nggak Pake Cabai, Nggak Galau’. Silahkan juga dipraktekkan tipsnya dari emak yang satu ini ya, inspirator semuanya..

Siapa sangka tulisan dia yang ‘hits’ justru ‘Bahasa Jawa Kromo Inggil’. Beberapa kekuatan karya Nazlah ini adalah ia mengangkat hal yang mulai banyak ditinggalkan orang zaman sekarang, yaitu mendidik anak berbicara dengan bahasa Jawa yang halus. Plus tulisan ini jauh dari kesan sombong sebab ditulis dari pengalaman pribadi melalui penyajian yang sederhana dan apa adanya.

Beberapa catatan hariannya, seperti ‘Saya Menulis Untuk Anak Cucu (Mengapa Saya Menulis)’, sayang jika dilewatkan. Juga beberapa puisi singkat, misalnya ‘Ruang Rindu (3)’, baik sekali dinikmati sebagai penutup tulisan kami kali ini. Terus menulis walau sibuk mengurus buah hatinya, ya ibu Nazlah, hehe..

  • view 138