Yang Susah Dicapai di Era Digital: Membaca Perlahan Penuh Penghayatan

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Buku
dipublikasikan 29 September 2017
Yang Susah Dicapai di Era Digital: Membaca Perlahan Penuh Penghayatan

Bayangkan sebelum membeli novel atau buku, kita terlebih dahulu berpikir akan memasuki dunia yang sama sekali awam. Tempat, tokoh, alur cerita yang sama sekali tak bisa kita prediksi akan berjalan seperti apa walau kita telah membaca resensinya sekali pun. Otak kita sengaja kita kosongkan demi menyambut petualangan yang hendak kita jalani. Petualangan dalam otak dan batin.

Jikalau setiap kali akan membaca fiksi kita terlebih dahulu memahami dan mencamkan baik-baik dalam hati bahwa menikmati cerita orang lain akan membuat kita terhibur dengan fantasi, imajinasi dan opini si penulis, tak terbayangkan jika buku yang akhirnya kita baca benar-benar bagus. Kita akan sulit berpisah dengan si tokoh A atau figur B. Sebab itu berarti kita akan berpisah dengan teman baru yang merupakaan rekaan si penulis, yang saking bagusnya membuat kita begitu menjiwai masing-masing dari mereka bahkan mencoba menempatkan diri di posisi mereka saat di dalam cerita.

Seandainya hal tersebut benar-benar kita terapkan maka membaca menjadi kegiatan yang spesial, tak sekadar kewajiban membuat daftar bacaan yang telah rampung dibaca tahun ini. Membaca akan membukakan mata batin sehingga menikmati prosesnya pun akan tak membuat kita merasa diburu-buru waktu.

Mungkin kalian mengalami yang salah satu admin redaksi alami beberapa tahun terakhir, yang pada akhirnya menginspirasi untuk menulis catatan edisi ini.

Munculnya ponsel pintar benar-benar membuat membaca pelan terasa begitu sulit dilakukan. Sementara dulu membaca novel satu atau dua jam tenang tanpa keinginan mengecek media sosial gampang dikerjakan kini hal tersebut kian menantang. Istilah ‘distraction’ atau selingan lambat laun jadi mengambil porsi yang lebih sering dan lebih lama dalam keseharian kita, termasuk mencaplok jam membaca dalam kesunyian yang dulu masih dapat sering dilakukan.

Membaca perlahan penuh penghayatan tanpa adanya interupsi satu atau dua jam dalam sehari mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Tak hanya menenangkan pikiran, kebiasaan ini membuat otak rileks, segar dan kembali fokus. Isi buku juga lebih nemplok di kepala dan batin. Tak pelak, menikmati fiksi sungguh jadi momen sakral antara kita dan cerita yang ditulis. Sebut saja, ‘momen kami’. Begitu rampung membaca maka kita akan keluar seperti orang baru dengan otak dan hati yang tak cuma‘berisi’ tetapi juga tersirami keindahan yang hanya bisa dirasakan oleh jiwa

Sumber bacaan

 

  • view 72