Hari Aksara Internasional yang Terasa Semu dengan Masih Rendahnya Minat Baca

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 September 2017
Hari Aksara Internasional yang Terasa Semu dengan Masih Rendahnya Minat Baca

Indonesia boleh berbangga diri. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik atau BPS dan Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 97,93% rakyat Indonesia sudah melek huruf alias tak lagi buta aksara. Hanya sekitar 2,07% atau 3,4 juta orang saja yang masih harus dientaskan per 2016.

Data tersebut tentu saja menggembirakan dalam merayakan Hari Aksara Internasional 2017 yang jatuh pada 8 September 2017 lalu. Setidaknya secara statistik warga Indonesia sudah banyak yang bisa membaca, tak lagi berada di bawah garis kebodohan sebab tak bisa membaca pangkal kebodohan dan kemiskinan.

Pertanyaannya sekarang: apakah itu sudah cukup?

Menurut data dari survei yang dilakukan oleh Central Connecticut State University tentang World’s Most Literate Nations atau Negara Paling Terpelajar di Dunia, Indonesia berada di peringkat ke-2 terbawah atau dengan kata lain Indonesia menjadi negara paling kurang terpelajar dari 62 negara yang disurvei. Indonesia ‘hanya’ kalah dari Botswana. Survei tersebut menyebut lima negara di kawasan Nordik; Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark dan Swedia, mendominasi lima negara paling terdidik dalam daftar tersebut.

Survei ini tidak hanya mengukur kemampuan membaca melainkan juga menilai minat membaca dan perilaku terdidik penduduk suatu negara berikut sumber yang mendukung sikap mereka. Peneliti dalam survei ini memasukkan lima indikator untuk menilai tingkat keterpelajaran suatu negara, yang mencakup perpustakaan, surat kabar, sumber, dan hasil pendidikan serta ketersediaan komputer. Pendekatan multi dimensi ini menggambarkan kekuatan sosial, ekonomi dan pemerintahan suatu negara.

Tentunya masih disayangkan meleknya aksara Indonesia masih belum berkembang menjadi sikap menumbuhkan minat membaca dan menghargai karya nalar akademis melalui penelitian dan kajian. Padahal hobi membaca, terutama menelaah tulisan yang tidak terkait secara langsung dengan profesi dan pendidikan yang sedang ditempuh, memberikan manfaat tak terhingga di kemudian hari.

Mereka yang senang membaca tak hanya jadi orang yang kreatif sebab memperoleh banyak ide dari tokoh yang mereka temui dalam membaca. Persoalan hidup bisa mereka pecahkan dengan mengambil inspirasi dari buku yang pernah mereka nikmati. Mereka yang suka membaca jadi bisa belajar menjadi orang yang lebih empati terhadap orang lain. Tak melulu berdampak secara cepat menjadikan seorang pembaca kaya harta atau terkenal memang, tetapi mereka yang senang membaca dan belajar akan tumbuh menjadi manusia yang benar-benar terdidik alamiah dari dalam diri sendiri. Bayangkan jika setiap anak Indonesia bisa seperti itu. Lalu bayangkan dampaknya bagi bangsa Indonesia jika semua warganya berperilaku sebagai orang yang terpelajar.

Jadi, mau kapan kita move on dari sekadar status melek huruf?

Sumber bacaan:

Dari Tribunnews, Central Connecticut State University dan The Jakarta Post

 

 

 

  • view 31