Inspirator Minggu Ini: Aji Latuconsina

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Agustus 2017
Inspirator Minggu Ini: Aji Latuconsina

Bukan terhitung inspirator yang sudah lama bergabung tetapi kami memilih Aji Latuconsina sebagai Inspirator Minggu Ini sebab konsisten menulis puisi yang tak hanya bagus tetapi beberapa di antaranya mengandung tema yang lumayan berat.

Inspirator asal Ambon, Maluku, ini baru pertama kali berbagi karya di sini pada 8 Juni 2017. Baru pertama muncul saja Aji sudah menelurkan ‘Sajak Lilin untuk Patung Lilin’ yang isinya lumayan berat, yakni tentang toleransi antar umat beragama, yang isu ini masih cukup hangat dibicarakan saat ini menyusul beberapa kasus penistaan agama. Sajak dengan topik semacam ini masih ia angkat pula dalam ‘Dan kita = bukan mereka”.

Lebih lantang lagi Aji bersuara dalam ‘Helahai’, yang dari judulnya saja sudah cukup membuat pembaca penasaran. Dalam sajak ini Aji total meluapkan protesnya atas nasib rakyat kecil yang semakin dibuat tak berdaya oleh kaum penguasa dan kapitalis yang tak mau melihat nasib kaum yang lebih miskin dari mereka. Puisi ini juga menyindir mereka yang pelit, meraup sebanyak-banyaknya apa yang dimiliki oleh bumi ke sesama saudara dengan biaya yang selangit.

Usai menyinggung tema agama, toleransi dan kapitalisme, Aji juga jago merayakan tema favorit banyak pujangga, yakni cinta dan romansa. Layaknya puisinya di tema-tema seperti yang disinggung di atas, sajak Aji tak kalah total, tanpa ampun mengeksplorasi perasaan. Jika tidak percaya silahkan menikmati baris demi baris karyanya yang berjudul ‘Rindu Setajam Bulan Sabit’. Begitu habis-habisan Aji merangkul rasa rindu, ragu dan suka pada sang pujaan hati, seperti terbaca dalam sajak yang kaya metafora berikut ini:

Oh bulan 
aku titip sepenggal rindu padamu
di lengkung pahamu yang bak perahu
aku ingin rebah di pangkuanmu
biar mimpi bawa kita berlayar jauh
menembus labirin langit ke tujuh
hingga mentari tak sampai menyinari

Kami akhiri ulasannya dengan lagi dan lagi mengetengahkan sajaknya, yang kali ini patriotik realistis, “72 Tahun Bambu Tak Lagi Runcing”. Aji mengungkapkan arti kemerdekaan yang sudah 72 tahun kita rasakan sudah memudar. Bambu yang tak lagi runcing merujuk pada potensi perpecahan bangsa yang berasal dari sikap kurang menghargai perbedaan satu sama lain.

Ditunggu terus karyanya, Aji!

  • view 133

  • Aji Latuconsina
    Aji Latuconsina
    2 bulan yang lalu.
    Terima kasih yang tak terhingga kepada Redaksi Inspirasi.co atas obyektifitasnya, karena selalu idealis dan jujur dalam pilihannya.

    Bagi kami yang selalu mencari inspirasi, tanggapan dan penilaian dari Redaksi Inspirasi.co ini merupakan penghargaan yang besar gunanya buat kami ke depan untuk berusaha membuat karya yang produktif dan kreatif lagi.

    Salam, terima kasih.