Lima Non Fiksi Perang Agar Semangat Kemerdekaanmu Kian Membara

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Agustus 2017
Lima Non Fiksi Perang Agar Semangat Kemerdekaanmu Kian Membara

Darah dan doa selalu mengiringi perjuangan siapa pun atau negara mana pun meraih kemerdekaan. Mengorbankan fisik, salah satu yang paling bisa kita nyata resapi dan pelajari dari nenek moyang atas andil mereka. Pikiran, taktik hingga diplomasi turut mewarnai perjuangan panjang mereka yang bukan hal mudah untuk dilakukan. Serangkaian perundingan, negosiasi jadi fase perjuangan tersendiri yang mungkin acapkali kita abaikan.

Tak hanya tentang kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 yang baru sehari kita rayakan, secara umum perang meraih kebebasan tak ubahnya seperti drama penuh intrik. Masih dalam gelora kemerdekaan Indonesia tahun ini, berikut kami sebut lima non fiksi rekomendasi banyak pembaca biar semangat 17an tetap berkibar di dalam dada kita semua.

  1. ‘Unbroken: A World War II Story of Survivor, Resilience and Redemption” oleh Laura Hillenbrand

Pada Mei 1943, sebuah pesawat penghancur milik Angkatan Udara jatuh ke Samudra Pasifik yang tinggal menyisakan serpihan reruntuhan, minyak, bensin dan darah. Lalu di permukaan laut muncullah sebuah wajah, yang tak lain adalah letnan Louis Zamperini. Ia berjuang bertahan hidup dengan hamparan laut di depannya, melawan kelaparan dan kemiskinan. Kisah hidupnya menjadi salah satu perjalanan hidup yang paling dikenang dari Perang Dunia ke-2.

  1. ‘When Books Went to War: The Stories that Helped Us Win World War II” oleh Molly Guptill Manning

Ketika Amerika Serikat ikut dalam Perang Dunia II pada 1941, ada musuh yang telah membakar lebih dari 100 juta buku dan menakut-nakuti warga atau menghancurkan lebih banyak lagi. Pustawakan yang marah lalu mengadakan kampanye mengirim buku secara cuma-cuma ke prajurit negara tersebut hingga donasi mencapai 20 juta buku. Cerita sisi lain tentang perang yang sangat menarik dan buku-buku tersebut jadi judul yang sangat diingat hingga kini.

  1. ‘A Bright Shining Lie: John Paul Vann and America in Vietnam” oleh Neil Sheehan 

Buku ini berkisah tentang perang Vietnam yang terutama terpusat pada Letnan Kolonel John Paul Vann, yang sekaligus mencerminkan kegagalan Amerika Serikat di Asia Tenggara. John Paul Vann merupakan penasehat lapangan bagi Angkatan Darat saat keterlibatan negara tersebut dalam perang ini masih dini. Ia terkejut mendapati adanya korupsi rezim Vietnam Selatan, ketidakmampuan mereka dalam melawan Komunis dan pengasingan pemerintahan tersebut atas warganya sendiri.

  1. ‘The Dairy of a Young Girl’ oleh Anne Frank

Ditemukan di sebuah loteng dimana Anne Frank menghabiskan tahun-tahun terakhir dalam hidupnya, buku harian wanita ini telah menjadi buku klasik, yang mengingatkan kengerian perang bagi kita semua. Saat tentara Nazi menguasai Belanda pada 1943, Anne yang seorang Yahudi dan kala itu berusia 13 tahun bersembunyi bersama keluarganya. Dalam bukunya, Anne mencatat pengalamannya selama dalam persembunyian selama dua tahun tersebut.

  1. ‘Frozen in Time: An Epic Story of Survival and a World Modern Quest for Lost Heroes of World War II” oleh Mitchell Zuckoff

Buku ini menceritakan tentang keberanian, cara bertahan hidup dan penghormatan di belantara Artik selama Perang Dunia II. Pada 5 November 1942, sebuah kargo pesawat Amerika Serikat terbanting ke Greenland Ice Cap. Empat hari berikutnya, misi penyelamatan untuk musibah ini pun turut tersesat lalu hancur. Ajaibnya, semua pria dalam pesawat tersebut selamat. Non fiksi ini menggarisbawahi kejadian ini dan nasib ke seluruhan yang selamat. Perjuangan mereka bertahan hidup selama 148 di cuaca Artik yang brutal hingga akhirnya bisa selamat berkat misi yang dipimpin oleh Bernt Balchen jadi inti dari buku ini.

Sumber bacaan: Goodreads.com

 

  • view 61