Merayakan Kemerdekaan Versi Pencinta Sastra yang Patut Kamu Coba

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 04 Agustus 2017
Merayakan Kemerdekaan Versi Pencinta Sastra yang Patut Kamu Coba

Bulan Agustus terasa spesial bagi kita, warga Indonesia. Tinggal hitungan hari kita akan merayakan kemerdekaan ke-72 yang akan jatuh pada 17 Agustus mendatang. Awal bulan pun penduduk sudah banyak yang mengisi bulan ini dengan menghiasi jalan dengan aneka umbul-umbul warna-warni. Ada pula yang mencoba peruntungan berjualan bendera merah putih dan segala aneka rupa berbau dirgahayu kemerdekaan di jalanan.

Bagaimana jika tahun ini inspirator mencoba merayakan kemerdekaan dengan cara yang beda. Yuk disimak ide dari kami. Siapa tahu bisa kalian praktekkan:

1. Datang ke ASEAN Literary Festival ke-4

Sejak kemarin (3/8/2017), publik pencinta sastra dan seni sudah bisa memanjakan diri mengikuti berbagai acara internasional ini. Acara ini masih akan berlangsung hingga Minggu. Tak cuma bisa menikmati diskusi berbobot dari penulis nasional dan dunia, acara ini juga akan banyak menampilkan performa sastra dan budaya. Digelar di kawasan bersejarah nan klasik di Kota Tua, Jakarta Barat, dijamin akhir pekan kalian akan sangat 'berisi'. Untuk keterangan lebih lanjut silahkan berkunjung ke http://www.aseanliteraryfestival.com./

2. Menikmati karya sastrawan Angkatan '45

Yuk sejenak setop dulu membaca buku kontemporer yang mungkin inspirator sedang nikmati saat ini. Lalu beralihlah membaca novel atau puisi yang dibuat oleh pejuang kata zaman perjuangan dulu, seperti Chairil Anwar, Asrul Sani, Achdiat Karta Mihardja, Rivai Arpin, Trisno Sumardjo dan Utuy Tatang Sontani. Elemen yang kental dari karya mereka adalah nafas pemberontakan dan kebebasan yang tetap bisa menembus kalbu dengan bahasa alegori dan puitis.

3. Menonton dua versi 'Naga Bonar'

Tak cuma naskah film ini ditulis oleh Asrul Sani, film ini juga ikonik sebab mendulang kepopuleran saat pertama dibuat pada 1987 dan saat sekuelnya keluar pada 2007. 'Naga Bonar' sendiri merupakan film komedi situasi pada 1987 yang mengambil latar kondisi perang kemerdekaan Indonesia saat sedang melawan datangnya pasukan Kerajaan Belanda paska Indonesia merdeka di suatu daerah di Sumatera Utara.

4. Mempopulerkan sajak milik trio pujangga Angkatan '45

Selain 'Aku' milik Chairil Anwar, sastra nasional kala itu mempunyai trio pujangga hebat yakni Chairil Anwar, Asrul Sani dan Rivai Apin yang membuat kolaborasi puisi 'Tiga Menguak Takdir'. Menikmati puisi-puisi mereka sukses menggelorakan semangat kebebasan tanpa alfa menikmati deretan kata simbolis dan puitis. Berikut kami hadirkan 'Surat Dari Ibu' karya Asrul Sani sekaligus mengakhiri tulisan edisi kali ini.

Surat dari Ibu

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tak pedoman,
boleh engkau datang padaku

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”

Sumber bacaan: Wikipedia

  • view 127