Inspirator Minggu Ini: Nahla Jingga

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Mei 2017
Inspirator Minggu Ini: Nahla Jingga

Inspirator yang satu ini bukanlah termasuk anggota awal sejak Inspirasi.co lahir kembali. Ia bukan pula termasuk yang produktif. Nahla Jingga layak mendapat ulasan hari ini dan menjadi ikon inspirator selama minggu ini berkat karyanya yang berbobot dan bagus.

Kreator asal Salatiga, Jawa Tengah ini, cukup memukau dengan tulisannya yang menggugah dan menarik. Sebagai contoh, fiksinya yang berjudul ‘Janji Juang Ezza’ ini, yang menandai unggahan karya keduanya di sini pada 21 September 2016. Cerpen tersebut selain ditulis secara apik dan syahdu juga berhasil menggelorakan semangat persaudaraan sesama muslim dimana ada yang sedang berjuang melawan gempuran senjata di Gaza.

Pengalamannya memiliki seorang kawan pengidap kanker ia juga bagi di sini dalam ‘Aulia’. Dalam format tulisan ‘feature’ mendayu, kisahnya terbaca sungguh mengharu biru dan inspiratif.

Berturut-turut Nahla menulis serial fiksi tentang Rumah Cahaya, cerita sederhana yang justru membuat idenya terasa manis dan nyata. Judul-judul yang ia masukkan ke dalam rumah besar ‘Rumah Cahaya’ tersebut adalah ‘Rumah Selaksa Cahaya’, 'Ketika Bunda Pergi’, ‘Naufal dan Misteri Cemilan’, ‘Asa untuk Alisa’, ‘Kunci Kebaikan’, ‘Hilangnya Senyum Hanum’, dan ‘Nabiya Mencari Cahaya’.

Selain jago menulis cerpen, Nahla juga pintar menulis sajak. Beberapa telah dia pajang di galeri karyanya di sini. Sebagai contoh, “Akankah Kutemui Sang Jawab’. Senada dengan judul puisinya, karyanya ini penuh dengan bahasa metafora nan puitis sehingga sajaknya ini terbaca sastrawi dengan garis besar isi menggambarkan kegundahan si narator mencari jawaban.

Aroma alam membuat Nahla seolah tak pernah kehabisan kata-kata cantik untuk mempesonakan siapa saja yang membacanya. Sebut saja, “Kristal Hujan’. Bait seperti:

Malam ini tak ada gugusan bintang gemintang

Mutiara-mutiara langit itu tak tampak

Tertutup awan-awan kelabu yang berarak

Menerjemahkan gerak dan fenomena alam tak selalu mudah. Nahla, meskipun demikian, melakukannya secara baik sehingga sajak pendek tersebut enak sekali untuk dinikmati.

Dalam ‘Rahasia Sagarmatha; Sang ArgaNahla lebih berkembang lagi teknik kepenulisan puisinya dimana sajak ini terbaca lebih megah dalam balutan bahasa yang puitis dengan tetap memakai metafora. Membaca karya terbarunya tersebut benar-benar mengingatkan manusia akan kebesaran Alloh swt. Terus berkarya di sini, Nahla!