Lima Buku Laris yang Justru Dibenci Oleh Penulisnya Sendiri

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Buku
dipublikasikan 31 Maret 2017
Lima Buku Laris yang Justru Dibenci Oleh Penulisnya Sendiri

Selalu menarik mengutak-atik proses kreatif atau cerita di balik keberhasilan sebuah buku atau serial buku. Tak hanya berharap bisa ‘mencuri’ taktik si penulis hingga sanggup melahirkan karya yang begitu legendaris, mengetahui kisah di belakang layar terkadang bisa mengejutkan kita. Sementara selama ini mungkin kita banyak berpikir proses kreatif melulu soal mencari ide, inspirasi dan mengalahkan ‘writer’s block’ ternyata paska keberhasilan karya masih ada cerita yang bisa dikulik. Yang ini justru mencengangkan bagi beberapa. Yuk disimak inspirator biar kalian patut heran mengapa kami bilang demikian:

  1. A Milne dan ‘Winnie The Pooh’

Siapa dari inspirator yang tidak kenal dengan judul kartun yang satu ini, ‘Winnie The Pooh’? Karakter beruang yang lucu, menggemaskan dan positif ini masih menjadi kesayangan banyak orang sejak pertama kali diperkenalkan pada 1924. Siapa sangka penulisnya sendiri, A.A Milne, ternyata membenci karyanya yang sangat tenar hingga sekarang ini.

Tanpa bermaksud tidak mensyukuri rezeki yang hadir berkat karakter dalam serial buku ini, A.A Milne menyayangkan mengapa justru dia terkenal sebagai penulis anak-anak berkat Winnie The Pooh dan bukannya tiga novel, empat naskah drama dan 18 drama yang juga ia tulis untuk orang dewasa.

  1. Peter Benchley dan ‘Jaws’ (1974)

Yang belum pernah baca bukunya mungkin sudah sering mendengar judul ini, yang memang ‘hits’ sebagai film dengan arahan sutradara kondang, Steven Spielberg, yang rilis pada 1975. Berkisah tentang hiu putih pemakan manusia di daerah rekayasa di New England, Amerika Serikat, film ini sukses besar saat itu. Peter Benchley membenci bukunya yang sangat populer ini bukan karena penulisannya yang buruk tetapi lahir semacam ‘sharkphobia’ setelah buku ini terbit, kondisi yang membuat orang fobia atau takut akan hiu, terutama setelah versi filmnya muncul.

Akhirnya, Peter malahan mendedikasikan hidupnya melindungi hiu, terutama hiu putih yang justru menjadi tokoh antagonis dalam bukunya tersebut. Semacam hutang budi jugakah, Peter?

  1. Ian Fleming dan ‘The Spy Who Loved Me’

Penulis yang satu ini sangat terkenal dengan karakter James Bond, yang identik dengan pria mapan, tajir, ganteng dengan tunggangan super mewah. Belum lagi dikelilingi wanita cantik dan seksi. Siapa sangka, Ian Fleming membenci ‘The Spy Who Loved Me’ (1962), novel ke-10 dari rangkaian serial James Bond.

Sebenarnya Ian Fleming mempunyai maksud menulis ‘The Spy Who Loved Me’ dari perspektif wanita hingga buku ini paling sedikit berbau seksualitas. Ia baru memunculkan karakter James Bond mulai dari bab ke-10. Dari awal, fokus novel lebih tentang Vivienne Michel. Tetapi kritikus malah kurang menyukai percobaan Ian Fleming, hal yang membuat si kreator berusaha buku ini tak dicetak tetapi tentu saja gagal sebab justru malah dibuat versi filmnya.

  1. Franz Kafka dan ‘The Metamorphosis’ (1915)

Penggemar sastra kiri atau sastra Timur pasti tidak asing dengan nama yang satu ini, Franz Kafka. Siapa kira ia tidak menyukai karya-karyanya, termasuk ‘The Metamorphosis’. Hal ini diketahui melalui buku harian dan korespondensi yang ia lakukan ke beberapa temannya. Kepada sahabat baiknya, Max Brod, Kafka bahkan pernah meminta sobatnya tersebut untuk membakar semua karya yang belum pernah diterbitkan jelang akhir hayatnya. Alasannya karena ia membenci beberapa penulisan dalam karyanya tersebut.

Wasiat yang tentu saja tidak dijalankan sebab kini penggemar sastra bisa menikmati tulisan dan ide Kafka hingga kini. Semoga arwah Kafka tetap beristirahat dengan tenang meski keinginannya tidak terkabul.

  1. Sir Arthur Conan Doyle dan ‘Sherlock Holmes’

Yang mungkin paling buat kita geleng-geleng kepala poin yang terakhir ini. Sir Arthur Conan Doyle ternyata kadang membenci tokoh fiktif yang ia ciptakan sendiri, Sherlock Holmes, detektif nyentrik nan cerdas yang sampai sekarang menyedot perhatian penikmat cerita misteri dan kriminal.

Alasannya sederhana sekali; Sir Arthur Conan Doyle sebal ia kalah populer dibandingkan dengan Sherlock Holmes!

Saking lelahnya ia menulis tentang Sherlock Holmes, Sir Arthur Conan Doyle pernah sengaja mematikan tokoh favorit banyak orang tersebut dalam serial berjudul ‘The Final Problem’ (1893). Tekanan dari penggemar membuatnya membangkitkan Holmes kembali, menjelaskan Holmes memalsukan kematiannya dalam ‘The Adventure of the Empty House” (1903).

Sumber: Bustle.com dan Wikipedia