Shalat Jenazah dan Pilkada DKI

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Politik
dipublikasikan 2 bulan lalu
Shalat Jenazah dan Pilkada DKI

Tadinya orang berpikir ini adalah kerjaan orang iseng demam hoax, ketika awal-awal muncul gambar sepotong spanduk di media sosial berbunyi: Masjid Ini Tidak Mensholati Jenazah Pendukung Pemimpin Kafir. Atau dalam versi lain: Pembela Penista Agama.

Beberpa hari kemudian, muncul spanduk sejenis yang lain, di lokasi yang berbeda. Lalu muncul lagi, dan lagi. Hingga puluhan spanduk bertebaran dari masjid satu ke masjid yang lain. Orang masih mengira bahwa itu cuma jargon kampanye dan cari dukungan.

Lalu muncul kasus nenek Hindun yang renta namun secara terbuka menyetakan dirinya mendukung Ahok menjadi Gubernur DKI berikutnya. Lalu ada nenek yang lain.

Dan GP Ansor mengeluarkan sikap akan menyolati jenazah yang ditolak oleh masjid tertentu. Bahkan untuk kasus nenek Hindun, GP Ansor menyelenggarakan tahlilan di rumahnya. Lalu Plt. Gubernur DKI Sumarsono memerintahkan Satpol PP membersihkan dan hasilnya: 147 spanduk berhasil didapat. Dan Anies Baswedan, salah satu calon yang secara posisi diuntungkan jika spanduk tersebut efektif menakut-nakuti warga Jakarta dalam konteks Pilkada, akhirnya mengambil sikap: mestinya spanduk-spanduk itu diturunkan.

Demikianlah. Drama Pilkada DKI Jakarta sudah sedemikian jauh menyeret isu-isu agama, dan menyeret nama Tuhan ke dalamnya.

Mungkin kita sudah kehabisan imajinasi untuk berkampanye politik. Mungkin benar kata Iwan Fals: politik itu kejam.

Begitukah?


==

Sisipkan hashtag #ShalatJenazah dalam ringkasan tulisan atau karyamu. Karya dengan view terbanyak akan mendapatkan satu paket buku dari Penerbit Gagasmedia.