Inspirator Minggu Ini: Anik Cahyanik

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Februari 2017
Inspirator Minggu Ini: Anik Cahyanik

Asyik sekali menikmati tulisan-tulisan inspirator yang satu ini. Anik Cahyanik, anggota Inspirasi.co asal Kota Tahu, Kediri, ini sangat menghibur dengan karya-karyanya yang tertuang enak dibaca. Ia memang belum banyak menelurkan tulisan tetapi dari jumlah yang sudah ada bisa ditarik beberapa hal tentang wanita ini.

Anik jago mengolah rasa dan pengamatan menjadi cerita yang mengalir lancar. Dibutuhkan penghayatan bagus agar bisa menulis seperti yang Anik lakukan. Rata-rata tema yang ia angkat seputar religi dan kisah hidup yang dekat dengan kondisi sehari-hari.

Nilai plus karya Anik adalah ia menulis dakwah dengan cara yang menyenangkan, tidak menggurui. Seperti dalam cerpen berjudul “KETIKA MALAIKAT BERBISIK” dan “AKU MALU TERLIHAT CANTIK DI HADAPANMU” yang menyinggung soal kewajiban memakai jilbab. Dalam kedua cerpen itu, Anik menulis karakter yang malu ia belum memakai jilbab seperti yang lainnya. Ia juga menulis tentang memakai jilbab yang benar-benar syar’i bukan jilbob, yang memperlihatkan lekuk tubuh dan tidak menutup dada.

Lalu dalam “PENYAKIT LEBIH MEMATIKAN DARIPADA TUHAN”, Anik berbagi pengalamannya dilanda sakit TBC dan bagaimana justru menyadari sedang sakit manjadikan Anik mengingat kematian, yang bisa saja terjadi tanpa melihat umur manusia. Sungguh tulisan yang mengajak merenung tanpa mendayu-dayu atau cengeng.

Sekali-kali ia menulis cerpen, dua di antaranya menarik untuk dibahas sebab menunjukkan kekuatan wanita sebagai makhluk yang kuat melalui kelembutannya. Silahkan disimak nilai yang ia tawarkan dalam “OBROLAN DI CAFE ITU” dan, yang lebih menusuk perasaan dalam “Boneka Pernikahan”. Dalam judul yang pertama disebut, inspirator yang sedang suka menulis fiksi ini menyuguhkan pilihan seorang wanita yang memilih melepas rasa nyaman jika dia menikah dengan pria mapan dan lebih memilih berkuliah walau harus dua kali ujian agar bisa diterima.

Boneka Pernikahan” lebih getir lagi. Bercerita tentang seorang istri yang dimadu yang pada akhirnya ia tak lagi kuat menahan marah dan sedih. Cerpen yang satu ini ditulis dengan bahasa yang “terkontrol” sehingga rasa pilu dan menyesak justru terasa sangat dalam dan berbekas di hati pembaca.

Terakhir, kami ingin memberi kredit bagi Anik untuk ceritanya, yang bertajuk “Jika Matahari Lupa Terbit”. Teknik penulisan yang sangat pribadi dan cukup puitis membuat tulisannya kali ini tentang bagaimana jika mentari tiada lagi bersinar memberikan efek paska baca yang nempel di hati. Keren, Anik!