I untuk Imajinasi

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Februari 2017
I untuk Imajinasi

Apa jadinya fiksi tanpa imajinasi?

Walau inspirasi untuk berkhayal tak bisa dipisahkan dengan fakta sehari-hari, imajinasi tetaplah istilah yang berbeda, berdiri sendiri sebab rekayasa turut berperan di situ. Beberapa cerita fiksi paling berpengaruh di dunia berakar dari daya imajinasi yang sangat kuat. Sebut saja, Gulliver’s Travels, Harry Potter dan Lord of the Rings. Kritik kental dalam masing-masing cerita tersebut terasa khas berkat karangan masing-masing penulis yang sungguh menyihir. Padahal jika dipikir-pikir, inti cerita tak jauh dari kegundahan mereka tentang sifat buruk manusia.

Mengasah imajinasi pun tak pelak jadi cara jikalau ingin karya fiksimu, entah tulisan, video atau gambar, menjadi mumpuni. Banyak cara yang bisa ditempuh demi imajinasi yang valid dan hidup, yang untuk menjadikannya tertuang ke dalam karya fiksi yang hebat diperlukan latihan lama dengan beragam metode. Bahkan jika kau yakin ingin menjadi kreator selama kamu hidup maka melatih imajinasi akan jadi porsi praktek selama kamu bernafas.

Menajamkan imajinasi berarti kamu harus rajin mengamati. Apa pun dan siapa pun. Sepanjang observasimu, kosongkanlah pikiran dan hatimu. Tugasmu semata sebagai yang melihat dan merasakan saja. Hal ini penting demi stok imajinasi yang selalu segar terekam dalam otak dan batinmu.

Biar fiksimu nanti tidak dimentahkan oleh pembaca atau pendengar atau siapa pun yang menikmatinya, banyak-banyaklah membaca sumber atau ulasan dari orang lain. Sekali lagi, lakukan ini dalam kondisi yang jernih biar apa pun ide yang ada di kepalamu tetap tak terkikis. Jika kau acapkali urung mengeksekusi idemu hanya karena mengetahui kritik orang lain maka selamanya kamu tidak akan berkarya. Bahkan jadi kreator pun kamu harus berani mempertanggungjawabkan apa yang hendak kamu lakukan betapa pun ada yang tidak suka.

Langkah terakhir yang bisa kamu ambil adalah banyak merenung dalam memilih mana saja yang bisa dieksekusi dari hal yang mampir di otak dan hatimu. Yang perlu kami pahami, dalam menulis fiksi, walau pun hal yang akan kamu sampaikan menyangkut orang atau kejadian yang kamu memang nyata, kamu perlu menyisipkan hal yang benar-benar baru.

Misalnya, kamu menciptakan karakter atau tempat fiktif, yang benar-benar hanya ada dalam khayalanmu dengan sejumlah sifat dan ciri yang sebagian kamu comot dari dunia nyata. Lalu kamu memasukkan sifat atau keadaan yang hanya kamu yang tahu (jikalau ternyata sama dengan orang lain setidaknya hal itu menjadi ketidaksengajaan).

Sifat atau kondisi baru itu bisa saja pengandaian, mimpimu sendiri yang belum tercapai atau murni fantasi yang kamu tahu tidak akan terjadi di dunia nyata. Pada akhirnya, melatih imajinasi membutuhkan ilmu, netralitas pikiran, yang terpenting dari segalanya, berani membebaskan diri tenggelam dalam angan.