Kampus Memakan Korban, Sampai Kapan Tradisi Kekerasan Dipertahankan?

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Renungan
dipublikasikan 27 Januari 2017
Kampus Memakan Korban, Sampai Kapan Tradisi Kekerasan Dipertahankan?

Hari-hari ini kita dibuat bergidik dengan meninggalnya 3 mahasiswa peserta Pendidikan Dasar Mapala UII Yogyakarta. 10 mahasiswa lainnya masih dirawat di rumah sakit.

Tanpa menelisik detailnya, dengan mudah kita cenderung bisa menyimpulkan: ada yang salah dengan sistem pendidikan itu. Padahal baru Pendidikan Dasar. Ada yang salah dengan seperangkat norma yang dianut oleh lembaga-lembaga semacam Mapala: bahwa karena aktivitas lembaga ini terkait dengan fisik, maka perploncoan fisik menjadi keharusan dalam pelatihan-pelatihan kader mereka. Dan itu artinya kekerasan dalam arti yang sebenarnya: pemukulan, tendangan, angkat beban melebihi kapasitas, itu dianggap sah sebagai bagian dari cara mendidik.

Bayangkan bahwa pelatihan semacam itu sudah berlangsung puluhan tahun. Jikapun kemudian peserta pelatihan tidak meninggal, namun sudah bisa dipastikan ada sebagian peserta yang terganggu kesehatannya selama bertahun-tahun sesudah mengikuti pelatihan semacam itu. Jika Anda baca detail kasus UII ini, dampak dari pukulan dan tendangan yang dialami pesertanya bukan hanya berakibat memar-memar sebagai luka luar, namun juga bisa berakibat pada luka dan penyakit dalam.

Apakah memang norma kita menolerir metode pendidikan semacam itu? Akankah kita hanya bilang: ah, itu kasuistik, dan tidak ada yang salah degan sistemnya. Begitukah? Atau gimana?

==

Sisipkan hashtag #KampusMemakanKorban dalam ringkasan tulisan atau karyamu. Karya dengan view terbanyak akan mendapatkan satu paket buku dari Penerbit Gagas Media.

Dilihat 65