Mencoba Menguak Misteri Bernama Bakat

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Januari 2017
Mencoba Menguak Misteri Bernama Bakat

Apa itu bakat? Apa satu orang hanya dilahirkan dengan satu bakat saja? Apa bakat serta-merta ada atau bakat ada karena dibentuk? Sama-sama menulis atau membuat lagu, misalnya, mengapa hasil karya si A lebih bagus dari si B? Benarkah bakat memainkan peran di situ?

Bakat bisa seperti teka-teki yang bahkan kita tak sanggup menjawabnya dengan pasti. Yang diketahui, setiap dari diri kita mempunyai hobi atau kesenangan yang seperti ‘panggilan hati’ dimana kita tidak bisa bila tidak melakukannya. Kita rela melakukannya saat mata terkantuk-kantuk. Kita sanggup merogoh kocek lebih dalam demi ikut seminar atau membeli gitar mahal atau membeli novel penulis kesayangan kita.

Seiring dengan bertambahnya umur dan bertambahnya pengetahuan serta pengalaman, kita kadang terkejut ternyata kita mengetahui diri kita tak hanya hidup dengan satu hobi. Seiring dengan seringnya mendengar lagu, kita tahu ternyata kita punya cita rasa musik yang cukup tinggi. Atau bahkan kita ternyata jago soal seni lukis atau seni rupa. Berada di organisasi sekian lama kita jadi paham cara mengelola sumber daya manusia. Semakin sering kita berlatih melakukan suatu hal, yang bisa jadi awalnya sukarela atau terpaksa, hal itu jadi bagian dari diri kita. Lama-kelamaan kita menemukan hobi baru atau bisa jadi kita mengetahui bakat kita yang lain, yang sekian lama terpendam.

Orang bilang bakat cuma berkontribusi 1%, kerja keras lah yang bisa menyumbang hingga 99% keberhasilan seseorang yang ingin sukses menekuni hobi mereka. Istilahnya, bilang suka atau mengaku berbakat bisa gampang, tetapi membuktikan cintanya pada yang disukai itulah yang berat. Apalagi kalau karyanya memang jelek. Begitu mudah kita akan melempar handuk, bilang tidak berbakat dan sebagainya. Butuh keberanian tetap mengikuti ‘panggilan hati’ yang melecut kita untuk terus bekerja.

Dan jika kita terus konsisten mengikuti ‘panggilan hati’ tersebut bersiaplah akan menjadi budak dari apa yang kita sukai. Lupa tidur, lupa makan, tak jarang kesehatan terganggu. Jika sudah mengetahui kemauan diri sendiri kita harus bisa menjaga agar tetap bisa menyeimbangkannya dengan yang lain.

Pepatah yang mengatakan ‘hasil tidak akan mengkhianati proses” bisa jadi tak berlaku dalam hal ini. Kadang sekian puluh ribu jam yang kita habiskan belajar menulis atau menggambar belum tentu berbuah persetujuan penerbit buku tempat kamu mengirimkan naskah yang akan menerbitkan hasil karyamu. Tetapi jika kita sadar tugas kita bisa sesederhana ‘memberi makan hati dan jiwa’ agar ‘panggilan hati’ itu sementara terdiam maka bekerja dan berusaha itu sudah cukup. Lalu saat ia memberontak, kamu akan tergerak kembali berlatih. Terus dan tetap demikian.