Inspirator Minggu Ini: Hani Taqiyya

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Desember 2016
Inspirator Minggu Ini: Hani Taqiyya

Walau bukan terbilang sebagai inspirator yang produktif, Hani Taqiyya selalu menghasilkan kreasi yang berbobot di Inspirasi.co, membuat lamannya selalu layak untuk dicek. Tak banyak hal pribadi yang ia bagi di rumahnya di sini tetapi menilik dari apa yang pernah ia unggah di sini, dapat disimpulkan inspirator yang satu ini penyuka sastra dan sajak.

Tulisan-tulisan Hani sangat ‘dalam’, yang berarti sanggup mewakilkan emosi tokoh secara maksimal hingga dapat menjangkau ‘hati’ pembaca. Hampir selalu karyanya mengupas sifat dan penggalan kisah anak manusia berikut rentetan rasa yang dialami oleh tokoh utamanya. Hal yang membuat Hani keren adalah keahliannya memilah kata-kata yang pas sehingga menjadikan tulisannya sangat ‘berbunyi.’

Kami ajak inspirator menyelami garis besar karyanya. Di bagian puisi, silahkan membaca ‘Mereka Menyebutnya, Cinta.’ , sajak pendek yang getir tentang asmara, yang tak jarang dituangkan sebagai jenis pengalaman indah nan bombastis oleh sebagian orang. Lalu ada pula puisinya yang berbahasa Inggris, “IN SILENCE” yang cukup filosofis tentang beberapa hal dalam kehidupan yang terkadang memang lebih baik tidak diketahui.

Urusan cerpen, Hani sangat mahir mengolah perasaan manusia menjadi akar fiksi yang kuat. Sebagai contoh, ‘Peach’, cerpen buatannya yang mahir menuangkan pengalaman pahit si tokoh utama hingga mengajak pembaca bisa ‘sangat dekat’ turut merasakan apa yang karakter tersebut alami.

Dalam ‘Berbagi Kematian’, selain kembali menunjukkan kepiawaiannya memperoleh ide sederhana dari rasa rindu yang seharusnya tak lagi ia rasakan, Hani seolah mewakili perasaaan mereka yang ‘mati-matian’ move on dari orang yang pernah ia cintai. Betapa melawan rasa rindu terhadap orang tersebut sangatlah berat.

Dua tulisan tersebut merupakan contoh karya monolog dengan teknik penceritaan sangat mendetil dan personal.

Sedangkan dalam ‘Rein and Tears’, Hani tetap mengangkat cinta tak melulu indah, misalnya dalam cinta bertepuk sebelah tangan seperti dalam kisah ini. Gaya penceritaannya dalam cerpen ini lebih santai dan ringan tetapi sebenarnya mengandung aroma sedih yang cukup memilukan buat Rein, sang tokoh utama.

Sejauh ini, Hani telah menelurkan tiga project; ‘ENIGMA, A Story that never told’, ‘Monologue’ dan ‘Sebuah Pertemuan, Sebuah Cerita’. Ketiga project tersebut mewakilkan ide besar Hani untuk tiga tema berbeda tetapi tetap mengetengahkan ciri khas tulisannya yang dalam, agak ‘gelap’ dan mencoba menilai suatu peristiwa atau perasaan secara apa adanya.

Luar biasa, Hani!

 

 

 

 

  • view 172