Lima Hal yang Dirasakan Kutu Buku Saat Buku Favorit Dibuat Film

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Buku
dipublikasikan 23 Desember 2016
Lima Hal yang Dirasakan Kutu Buku Saat Buku Favorit Dibuat Film

Ada banyak judul film yang merajai dunia film yang diambil dari buku. Bahkan belakangan, film yang laris manis ditonton merupakan serial yang terlebih dahulu memikat penikmat kata. Sebut saja, Harry Potter, A Game of Thrones di dunia fiksi fantasi. Atau dari ranah fiksi romansa, film yang diadaptasi dari Nicholas Sparks banyak yang masuk layak tunggu.

Kita tahu buku dan film merupakan dua jenis karya yang dibuat secara berbeda dengan target penikmat yang berbeda pula. Sementara penikmat buku ingin bermain fantasi melalui kata dan terkadang atau sedikit gambar, penyuka film menginginkan kenikmatan yang lebih kompleks, ada visual, suara, kostum, dll. Walau keduanya memang karya seni yang berbeda secara fitrah tetap saja jika kamu kutu buku yang kebetulan buku favoritmu dibuat menjadi film tak serta-merta terlepas dari rasa, seperti yang kami rangkum di bawah ini:

  1. Kamu meragukan kemampuan sutradara filmnya

Terlebih jika buku yang hendak dibuat versi filmnya diadaptasi dari novel yang menurut kamu sangat rumit, kamu dapat merasa ragu apakah sutradara hebat di Hollywood pun dapat menerjemahkannya ke dalam layar kaca.

  1. Kamu bisa merasa tidak rela

Mungkin terdengar aneh, kamu bisa merasa tidak rela buku favoritmu dibuat ke dalam film. Seolah menurutmu buku tersebut cukup jadi bahan bacaan saja. Kamu takut membuat versi filmnya akan membuat citra buku tersebut menjadi terkesan murahan. Atau kamu takut versi film dari novel kesukaanmu tersebut akan membuat citra buku itu berbeda dari yang versi tulisnya.

  1. Butuh waktu lama memutuskan menonton versi filmnya atau tidak

Bisa jadi kamu tidak menonton versi filmnya atas alasan seperti di poin ke-2. Atau pun kalau kamu menonton, kamu akan mikir lama.

  1. Menurutmu versi buku tetap lebih baik

Walau kamu tahu film dan buku, sekali lagi, dibuat untuk tujuan yang berbeda, kamu tetap saja berpendapat versi tulisan tetap yang terbaik. Kamu merasa versi tulisan lah yang paling hebat. Egoisme sebagai pembaca muncul dalam poin ini meski dalam lubuk hatimu kamu tahu bukan perkara gampang membuat film. Yang pasti uang keluar lebih banyak kalau membuat versi layar kacanya.

  1. Kamu bisa jadi netral dan bijak dimana kedua versi bisa kamu nikmati secara terpisah

Buat kamu yang bisa bersikap netral dan sanggup menjauhkan diri dari penilaian subyektif, kamu bisa menikmati dua jenis karya seni ini secara apik. Kamu dapat memisahkan penilaian kedua versi tersebut secara lebih arif demi pemahaman yang lebih komprehensif. Ekspektasi kamu pun berbeda.

Kalau inspirator sendiri bagaimana? Suka tidak jika buku kesukaan kalian dibuat versi filmnya?

  • view 208