Seni Membaca yang Sebenar-benarnya

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Buku
dipublikasikan 25 November 2016
Seni Membaca yang Sebenar-benarnya

Hari Minggu ini engkau pergi ke toko buku favoritmu. Sudah lama sebenarnya engkau ingin berkunjung wajib ke toko itu tetapi kesibukanmu membuatmu batal pergi. Walau alasan sesungguhnya adalah kamu tidak mau pergi ke tempat itu dalam kondisi lelah, otak karut akibat seharian bekerja atau belajar. Kamu ingin ke sana dengan hati lapang dan fisik yang bugar.

Tanpa kamu sadari pergi ke toko buku saja sudah seperti akan melakukan perjalanan ritual.

Engkau pembaca yang keras kepala. Deretan buku laris manis versi New York Times, ratusan novel chicklit atau young adult yang saat ini digandrungi banyak orang tak kan pernah sanggup merayumu untuk berpaling. Entah kau ini pembaca yang setia atau kolot tetapi tipikal pembaca seperti dirimu paling dibenci oleh banyak penulis. Sebab mereka akan susah payah menyeretmu menikmati karya mereka.

Yang kamu beli akhirnya buku penulis yang itu-itu saja. Tengok judul, memilih judul ini dan itu, akhirnya novel setebal 500an halaman ada di genggamanmu. Kamu tidak tahu cara menghabiskan semua halaman itu. Yang kamu yakin dua halaman pertama sudah menyihir hatimu jadi tak perlu banyak alasan untuk pulang dengan tangan hampa.

Sungguh kamu jenis pembaca yang hampir selalu jatuh cinta pada halaman pertama. Lagi-lagi kamu membuat pengarang yang bukan penulis kesukaanmu sebal karena untuk mencuri hatimu mereka harus membuat novel yang membuai sejak dari halaman pertama.

Buatmu menyelesaikan membaca sebuah novel atau buku seperti membuat komitmen. Apa pun yang terjadi, betapa sibuknya kamu, menyelesaikan membaca sebuah buku adalah target yang harus kamu capai.

Jadi selama perjalanan membaca engkau mengalami pasang surut kenikmatan. Di awal, halaman pertama membuatmu mabuk kebayang. Kau tak pernah membayangkan bisa merasakan vitamin jiwa indah seperti membaca buku yang satu ini.

Setelah mengenal beberapa tokoh utama, kenikmatan beralih dari menikmati kata menjadi menyelami karakter. Jika sedang waras, kamu dapat memposisikan diri sebagai mata-mata saja, penonton setia. Tetapi jika egomu keluar, kamu mendadak seperti hakim. Menyalahkan si karakter ini, membela si tokoh B atau bisa pula bingung akan berada di pihak mana.

Membaca novel itu membuatmu menjadi manusia sok jernih, sok suci, padahal tiap karakternya bisa jadi ada pada dirimu. Sayangnya kamu baru sadar setelah usai merampungkan halaman terakhir.

Saat novel mencapai pertengahan, katakanlah halaman 200an, konflik sedang hangat-hangatnya. Kamu seolah berderu. Layaknya seperti dalam balapan motor, kamu tak sabar ingin segera menyelesaikannya. Kamu membaca saat sedang berdiri di dalam bus. Kamu tetap membaca meski penumpang sebelah atau depanmu tertawa terbahak-bahak. Kamu terkungkung dalam duniamu sendiri. Rasa penasaranmu sanggup membuatmu berpetualang tak kalah seru dengan backpacker yang sedang berkeliling dunia.

Tak jarang kamu hanya tidur beberapa jam. Kamu awalnya bilang akan berhenti pada halaman 100 atau 120 tetapi yang ada kamu lanjut membaca hingga halaman ke-300. Kamu mengutuki dirimu sendiri sebab kurang tidur tetapi bagaimana pun juga kamu bahagia.

Menjelang bagian akhir cerita kamu bergelut dengan batinmu sendiri. Di satu sisi kamu senang akhirnya kisah berakhir seperti yang kamu bayangkan. Atau cerita berakhir tragis tetapi tetap sanggup menghiburmu sebab bagaimana pun juga kisahnya tentang hidup, yang tidak selalu manis.

Tetapi kamu juga sedih harus berpisah dengan buku bagus yang selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan menjadi teman terbaikmu. Kamu sendu mengucap selamat tinggal dengan tokoh fiktif yang ada di buku itu. Kamu lega berhasil memenuhi janji terhadap dirimu sendiri walau harus merasa agak hampa kesenangan itu harus berakhir.

Dan untuk mengobatinya kamu membeli novel lagi yang tak kalah bagusnya. Kamu pun berada dalam perjalanan lagi. Perjalanan yang akan menghadirkan sensasi campur aduk selama kamu mau sepanjang itu memang yang kamu pilih.

 


  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    8 bulan yang lalu.
    Bener banget tuh ...
    saya juga termasuk tipe pembaca yang setia, selalu mengikuti perkembangan dan membeli tiap judul buku dari beberapa orang penulis favorit,
    tapi tidak menutup hati pada karya penulis lainnya, asal isinya bermanfaat dan terjangkau isi kantong, saya tak segan membelinya ...

    Membaca adalah cara terbaik membunuh waktu. Membuat kita lupa bahwa kita sedang menunggu. Tak memberikan sedikit pun kesempatan untuk sebuah kebosanan.

    Membaca adalah salah satu cara paling masuk akal untuk sejenak melupakan kerumitan hidup.
    Membuat lupa waktu, lupa makan, bahkan lupa tidur.
    Bagi orang lain mungkin itu terlihat melelahkan atau membosankan.
    Tapi bagi saya, itu menyenangkan.

    Membaca adalah salah satu cara termudah untuk berbahagia, di samping selalu bersyukur, tentu saja ...

    • Lihat 1 Respon

  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    8 bulan yang lalu.
    Curahan seorang pecinta buku terhadap orang-orang yang membaca buku

  • agus geisha
    agus geisha
    8 bulan yang lalu.
    ini terjemahan?