Rohingya, Di mana Posisi Kita?

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Politik
dipublikasikan 23 November 2016
Rohingya, Di mana Posisi Kita?

Konflik kekerasan yang sekarang terjadi di Rohingya mengingatkan kembali akan peristiwa pada tahun 2012 lalu. Gelombang kekerasan saat itu menyebabkan lebih dari 100 orang tewas dalam konflik itu. Warga Rohingya yang bermayoritas muslim selalu menjadi sasaran penganiayaan dan dipandang sebagai imigran ilegal asal Bangladesh oleh warga Myanmar yang mayoritas penganut Budha.

Kekerasan yang sangat kejam menimpa warga Rohingya ini mengakibatkan ratusan korban terbunuh dan jutaan warga Rohingnya berbondong- bondong mencari suaka ke negara lain. Tentunya peristiwa yang dialami warga Rohingya menjadi perhatian dunia yang harus segera diselesaikan. Tapi apa hasil yang sudah dilakukan setelah 1 tahun peristiwa ini berjalan? Ya, semakin memburuk.

Lalu, bagaimana sikap penyandang Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi terhadap penindasan warga Rohingya oleh pemerintah Myanmar? Apakah HAM yang dijunjung tinggi di berbagai negara masih berlaku untuk warga rohingya? Apa yang seharusnya dilakukan oleh negara- negara lain, khususnya negara yang bermayoritas muslim?


  • Elsa 
    Elsa 
    6 bulan yang lalu.
    Menurut saya, pemerintah Indonesia perlu mengangkat isu ini di tingkat Asean. Etnis Rohingya adalah salah satu etnis minoritas yang diperlakukan secara diskriminatif di dunia ini. Banyak juga etnis-etnis lain yang ditekan oleh etnis mayoritas di negara-negara lain. Misalnya, etnis Tamil di Srilanka, etnis Hazara di Afghanistan, etnis Kurdi di timur tengah, dsb...
    Kita sebagai rakyat jelata pun bertanya apa yg bisa kita lakukan? Apakah ada yang bisa kita perbuat di samping berdoa untuk masyarakat Rohingya? Paling tidak, kita bisa berusaha agar Indonesia menjadi suri tauladan sebagai negara yang menghargai dan melindungi etnis-etnis minoritas, tanpa membeda-bedakan agama mereka. Dengan demikian, Indonesia bisa memberi contoh dan memberi inspirasi bagi negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama.

  • Hani Taqiyya
    Hani Taqiyya
    7 bulan yang lalu.
    A great reminder.