UWRF 2016 Catat Lonjakan Pengunjung Hingga 31,5%

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 16 November 2016
UWRF 2016 Catat Lonjakan Pengunjung Hingga 31,5%

Dalam perhelatan kali ke-13, Ubud Writers and Readers Festival atau UWRF 2016 menyaksikan geliat sastra dan seni nasional semakin menjadi ditandai dengan naiknya jumlah pengunjung tahun ini.

Dalam siaran pers panitia UWRF 2016 pada 14 November, lebih dari 30 ribu pengunjung meramaikan acara sastra bergengsi yang dihelat 26 hingga 30 Oktober 2016 tersebut. Lebih lanjut, penjualan tiket Program Utama tumbuh 4,1%, dimana penjualan tiket harian bertambah 23,8%. Secara keseluruhan, jumlah warga Indonesia yang datang ke acara ini naik 31,5%.

Tema tahun ini, ‘Tat Tvam Asi’ atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’, benar-benar menggugah 200 pengisi festival ini sekaligus para hadirin. Pendiri dan Direktur Festival ini Janet DeNefee mengatakan, “Sifat keseluruhan tema kami mencerminkan jiwa khas Festival ini yang begitu mempedulikan pembaca sekaligus penulis.”

Penulis besar nasional, seperti Seno Gumira Adjidarma, Dewi Lestari dan Eka Kurniawan, memukau penggemarnya dan mencuri perhatian orang baru. Aktivis muda nasional dan dunia, seperti penulis sekaligus fotografer Agustinus Wibowo, pemenang Kejuaraan Puisi Dunia Emi Mahmoud dan bintang hip hop muslim The Brothahood, menjaga festival tetap teguh membahas bagaimana berkontribusi mengubah dunia menjadi lebih baik.

Dari kancah internasional, sastrawan terkemuka, seperti Hanya Yanigihara, Lionel Shriver, Magda Szubanski dan Suki Kim, sukses membuat acara padat pengunjung dengan membahas topik inti festival ini, yaitu identitas, kepemilikan, hak asasi manusia dan martabat. “Fiksi seharusnya membuat kita melihat hal yang kita abaikan saat berada di realita dan dunia lainnya,” ujar Hanya Yanigihara.

Sedangkan dari 16 ‘emerging writers’ diperoleh suara untuk melestarikan bahasa daerah. “Ubud Writers and Readers Festival menunjukkan bahwa penulis Indonesia bisa bersanding dengan penulis hebat dunia,” ungkap Deasy Tirayoh, salah satu ‘emerging writer’.

Dalam penutupan festival ini, DeNefee mengatakan festival tahun ini, yang memasuki usia ke-13, masihlah terbilang remaja. “Festival ini benar-benar menemukan pijakannya di festival sastra dunia,” kata DeNeFee, “sambil tetap teguh pada komitmennya memunculkan suara dari daerah agar didengar di antara nama besar.”

Kredit foto oleh Wirasathya Darmaja

  • view 157