Lima Etika Menulis Komentar di Media Sosial yang Kadang Diabaikan

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 November 2016
Lima Etika Menulis Komentar di Media Sosial yang Kadang Diabaikan

Dalam dua minggu terakhir yang admin redaksi rasakan mungkin juga kawan inspirator semua alami. Di hampir semua media sosial, Facebook, Twitter mau pun Instagram, rekan-rekan admin banyak berbagi komentar tentang kejadian 4 November 2016. Dugaan kasus penistaan agama oleh gubernur DKI Jakarta non Aktif Basuka Tjahaja Purnama atau Ahok memicu ribuan umat muslim nasional turun ke jalan. Demonstrasi yang awalnya berjalan damai akhirnya berujung ricuh.

Minggu ini, media sosial kembali heboh dengan pemilihan presiden Amerika Serikat, yang secara cukup mengejutkan menyaksikan kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton. Kita, yang nun jauh dari tanah Paman Sam, banyak beropini, berbagi tautan, video hingga ‘meme’ dengan isi pesan yang variatif. Dimana lagi tempat paling pas untuk mencurahkan uneg-uneg selain di media sosial.

Jika diperhatikan fenomena semacam ini telah berlangsung cukup lama. Media sosial teramat sangat mengubah cara orang berpendapat. Berbekal internet, setiap dari kita dengan mudah berbagi informasi, keluhan hingga cemoohan di dunia maya. Ada yang berharap sekadar mengeluarkan isi hati, ada pula yang ingin meraih sebanyak mungkin ‘likes’ atau komentar. Disadari atau tidak, gemuruh pendapat di dunia media sosial perlahan terkadang mulai menjemukan bagi sebagian orang, beberapa disebabkan oleh etika yang bisa jadi kita abaikan, seperti di bawah ini:

  1. Abai mengecek kebenaran sumber berita

Sudah jadi hal biasa menemukan tautan yang disebar oleh teman dunia maya kita berasal dari blog atau situs berita yang baru pertama kali kita dengar. Judul yang provokatif atau gambar yang bombastis begitu membuai hingga lalai mengecek apakah memang benar faktanya seperti itu atau tidak. Tak jarang pengecekan tidak dilakukan hingga berujung pada efek berita, yang entah benar atau tidak, menjadi mengalir seperti bola salju liar. Ia menjangkau siapa pun di mana pun. Bila fakta yang disebarkan memang benar adanya tentu berdampak baik tetapi jika hanya rekaan atau dilebih-lebihkan?

2. Abai meneliti isi status, apakah kira-kira menyinggung perasaan pihak tertentu atau tidak

Bukan saran yang buruk untuk membayangkan bagaimana jika kita berada di posisi pihak yang hendak kita sindir. Apakah kita sudah cukup baik sehingga punyai hak menjelek-jelekkan orang lain?

3. Abai membayangkan dampak dari status atau tautan yang kita sebar, baik terhadap pihak yang kita sindir atau khalayak secara umum

Jangan pernah meremehkan dampak dari satu unggahan status atau gambar atau tautan berita yang kita sebar. Ingat bagaimana warung nasi uduk kakek yang ada di Rawamangun, Jawa Timur, menjadi laris berkat satu sebaran seorang pengguna media sosial? Unggahan positif tersebut saja bisa memberi efek luar biasa maka unggahan bernada kebencian atau negatif bisa berujung masif dan lebih dahsyat, yaitu perubahan pola pikir.

4. Abai mengumpulkan wawasan dari banyak sisi demi status atau konten di media sosial yang lebih berimbang

Mengutip kata sastrawan asal Brasil, Paulo Coelho,” Jangan habiskan waktumu memberi penjelasan. Orang cuma mau dengar apa yang mereka ingin dengar’. Terkadang kita hanya mencari pendukung atas apa yang menjadi pemikiran kita. Tak jarang kita enggan mau membuka pikiran demi unggahan yang lebih berimbang.

5. Abai fokus pada solusi dan lebih condong ke menyalahkan pihak tertentu

Poin terakhir ini yang paling kerap tak dilirik. Jika mempertimbangkan solusi kita akan berpikir ulang apakah apa yang akan diunggah memberi pengaruh baik atau justru hanya memperkeruh suasana. Paling gampang menyalahkan pihak tertentu dan tak banyak yang mau repot-repot berpikir solutif sebelum mengklik ‘kirim’, ‘balas’, ‘sebar’ dan yang lainnya.

Tulisan ini juga pengingat bagi admin yang masih sering khilaf melakukan salah satu keabaian di atas. Yuk, kawan mari cerdas memanfaatkan media sosial.


  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    Terkadang kita merasa bahwa dunia maya adalah dunia komunikasi tanpa aturan, kita merasa menjadi bisa bebas tanpa takut bahwa segala hal yang kita lakukan si sosmed bisa saja menyinggung. Dan benar, kembali lagi ke etika, jika "Mulutmu Harimaumu" maka "Postinganmu Pisaumu" (kenapa pisau? Karena sosmed mirip dengan pisau, bisa berguna atau tidak tergantung si pemakai).