Fiksi Sejarah: Cara Asyik Menyelami Peradaban Masa Lampau

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Buku
dipublikasikan 07 Oktober 2016
Fiksi Sejarah: Cara Asyik Menyelami Peradaban Masa Lampau

Salah satu cara mempelajari sejarah dengan cara yang menyenangkan adalah dengan membaca novel fiksi sejarah dengan latar belakang peristiwa tertentu. Selain memberikan banyak wawasan mengenai satu peristiwa sejarah tertentu, jenis karya sastra yang satu ini menawarkan kisah menarik manusia zaman dulu dengan masalah dan sudut pandang lampau.

Hal menantang menikmati novel atau karya fiksi sejarah adalah mendalami pemahaman, tingkah laku nenek moyang kita. Pada abad ke-18, misalnya, wanita yang mandiri dianggap tabu, pemberontak dan tidak tahu diri. Berbeda dengan zaman sekarang dimana wanita yang bekerja sendiri, bahkan orang tua tunggal, sudah menjadi hal yang umum ditemui.

Sebagaimana diambil dari Wikipedia, fiksi sejarah dalam bentuk prosa bisa dilacak kemunculannya pada abad ke-14 oleh sastrawan Tiongkok. Tiga dari empat karya klasik Tiongkok, yakni ‘Water Margin’, karya Shi Nai’an pada abad ke-14, berkisah tentang pencabutan perlindungan hukum pada abad ke-12. Bahkan, karya berjudul ‘Romance of the Three Kingdoms’ milik Luo Guanzhong pada abad ke-14, mengisahkan perang abad ke-3 yang mengakhiri Dinasti Han.

Fiksi sejarah benar-benar terkenal di Eropa pada awal ke abad-19, berkat pengaruh yang ditebarkan oleh penulis asal Skotlandia Sir Walter Scott. Honore de Balzac (Prancis), James Fenimore Cooper (Amerika Serikat) dan Leo Tolstoy (Rusia) mempelopori popularitas genre di negaranya masing-masing sebelum akhirnya mendunia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Beberapa judul novel fiksi sejarah yang terkenal, yaitu Burung-burung Manyar (1981) karangan Y.B. Mangunwijaya. Mengambil latar sejarah Indonesia antara 1934 dan 1978, novel ini mengangkat tema nasionalisme. Dalam novel ini akan kita temukan kondisi masyarakat sejak penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, Perang Kemerdekaan hingga masa Orde Baru.

Novel laris berikutnya adalah Para Priyayi yang ditulis oleh Umar Kayam dan terbit pada 1992. Novel ini berkisah tentang priyayi atau bangsawan dari kalangan petani, yakni Satrodarsono, yang tinggal di Wanagalih, sebuah ibukota kabupaten pada abad ke-19.

Apa inspirator punya novel fiksi sejarah favorit? Bagi ya infonya pada kolom komentar.

 


  • u h
    u h
    1 tahun yang lalu.
    Kalo fiksi sejarah tp bikinan abad 21 kira kira apa dn siapa ya penulisnya? Adakah? Kalo Cantik itu Luka nya Eka itu termasuk fiksi sejarah kah?

    • Lihat 1 Respon

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    Arok Dedes, Arus Balik (Pram), Prabarini (Putu Praba Darana), Silalatu Gunung Salak, Pasukan Siluman Haji Prawatasari (Aan Merdeka Permana) dan kayanya masih ada yang lain...

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    konon, kata sejarah berasal dari bahasa arab شجرة (syajarotun) yang artinya pohon.
    sejalan dengan kutipan di thumbnail.