Hannah Kent, Penulis Laris yang Angkat Lagi Cerita Rakyat

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Hannah Kent, Penulis Laris yang Angkat Lagi Cerita Rakyat

Hannah Kent, 31, tidak pernah menyangka novel perdananya Burial Rites (2013) bisa diterbitkan bahkan sangat sukses di seluruh dunia. Awalnya, penulis asal Adelaide, Australia ini, menulis Burial Rites sebagai bagian dari penulisan kreatif untuk gelar PhD.

“Aku memperkirakan hanya akan ada sekitar 10 orang yang akan membacanya, termasuk keluargaku. Kesuksesan Burial Rites benar-benar sangat mengejutkanku. Aku sangat berterima kasih ke semua pembaca dan agen buku yang telah mendukung novel debutku. Aku merasa sangat beruntung,” kata Hannah.

Burial Rites memenangkan ABIA Literary Fiction of the Year lalu banjir nominasi penghargaan, di antaranya Baileys Women’s Prize dan the Guardian First Book Award. Novel ini pun telah diterjemahkan ke dalam 28 bahasa. Burial Rites merupakan novel kisah nyata Agnes Magnúsdóttir, seorang pelayan di sebelah utara Islandia, yang dihukum mati setelah pembunuhan dua orang, salah satunya adalah majikannya. Ia menjadi wanita terakhir yang dikenai hukuman mati di negara tersebut.

Hannah menjadi salah satu penulis yang akan memeriahkan pagelaran Ubud Writers and Readers Festival 2016 di Ubud, Bali, antara 26 dan 30 Oktober 2016. Ia mengaku sangat antusias ikut serta dalam perhelatan ini tak hanya karena telah banyak mendengar hal menyenangkan tentang Ubud tetapi juga hal menarik yang akan ia peroleh selama acara itu.

“Hal terbaik dari festival penulis adalah menemukan suara baru, ini yang paling aku tunggu: mengetahui karya penulis yang belum pernah aku ketahui sebelumnya,” tambahnya.

Tema tahun ini ‘aku adalah engkau dan engkau adalah aku’ membuatnya menantikan perayaan keberagaman identitas dan dialog terkait pentingnya sastra dalam menyatukan dan merayakan perbedaan.

Momen ini pun bertepatan dengan peluncuran novel keduanya, The Good People, yang juga berdasarkan kisah nyata.

“Pada 1826, seorang wanita Irlandia dituduh membunuh dan pembelaan dia luar biasa – dia mengklaim sesungguhnya dia sedang menyelamatkan si korban dari ancaman kekuatan gaib,” kata Hannah tentang bukunya.

Bagi Hannah, novel keduanya ini memuat perhatian dia tentang cerita rakyat.

“Aku menulis buku ini agar lebih baik lagi mengeksplorasi sistem kepercayaan yang kini terasa cukup asing bagi dunia modern tetapi dulu pernah sangat mengena. Novel ini tentang kepercayaan, rasa duka dan cinta penuh dedikasi. Aku berharap bisa mendorong pembaca merefleksikan diri pada tradisi rakyat yang kini sudah banyak sirna lalu melihat kembali perannya dahulu di komunitas kecil,” terang Hannah.

Pendiri jurnal sastra Australia Kill Your Darlings ini mengaku mempunyai banyak penulis dan buku favorit untuk alasan yang berbeda. “Aku secara khusus terinspirasi oleh penulis yang luwes dalam berkarya, yang menulis karya dalam berbagai bentuk atau genre atau juga yang peduli pada kemanusiaan atau yang menaruh pandangan tentang tipe pengalaman hidup tertentu.”

Saat ditanya nama penulis kesukaannya, Hannah tak bisa menyebut sebab baginya “terlalu banyak yang bisa dipilih!”