Pilih Mana: Fiksi atau Non Fiksi?

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 16 September 2016
Pilih Mana: Fiksi atau Non Fiksi?

Apa kecenderungan inspirator dalam berkarya dan menikmati suatu karya? Apakah murni fiksi alias rekaan? Ataukah mendasarkan pada kisah nyata atau non fiksi?

Dalam dunia kreatif, termasuk tulis-menulis, dua pilihan besar; fiksi dan non fiksi, paling sering kita dengar. Fiksi secara umum berarti karya yang mendasarkan pada imajinasi, rekaan, tidak murni berdasarkan kenyataan atau sejarah. Sebaliknya non fiksi mendasarkan karyanya pada fakta atau kenyataan yang sebenarnya terjadi.

Kategori fiksi prosa biasanya diisi oleh cerita pendek, 'novella' atau novel. Program televisi, drama, 'video game' bisa menjadi bentuk lain dari cerita fiksi. Mereka yang menggeluti dunia fiksi sudah paham kreativitas menjadi kunci yang tak terbantahkan. Terlebih bagi cerita fiksi fantasi, yang sering kita lihat dalam film Hollywood, perihal menuangkan ide liar ke dalam tontonan yang menghibur sekaligus bisa dinalar oleh akal manusia menjadi tantangan tersendiri.

Buat penulis fiksi tantangan kurang lebih sama. Kreator bidang ini bermain dengan ide, karakter buatan, yang mungkin bisa jadi banyak terinspirasi dari orang yang pernah ia kenal atau bahkan dirinya sendiri. Biar lebih afdol, tak jarang penulis melakukan riset karakterisasi atau tempat yang menjadi 'setting' novel atau cerpennya.

Enaknya menikmati cerita fiksi adalah kita bisa bebas menyelami imajinasi pembuatnya. Kita bisa merasakan ‘suara’ yang terkandung di dalam tulisan lalu tergantung kita pula menginterpretasikannya ke dalam dunia yang sesungguhnya. Alur dan akhir cerita pun bisa tidak terduga.

Berkebalikan dengan non fiksi, kreator yang memilih jalur ini memunculkan karya yang memang didapat setelah riset, beberapa di antaranya mengenai sejarah atau fakta orang terkenal yang hendak ditulis. Jenis karya non fiksi yang lazim kita temui adalah biografi, esai opini, karya jurnalisme, tulisan tentang ekonomi, dll. Beberapa jenis ini juga bisa diaplikasikan untuk karya film, video dokumenter, musik, dsb.

Pastinya bukan hal mudah menghadirkan karya yang benar, sesuai fakta, apalagi kreasi tentang sejarah. Melakukan riset sendiri sudah menjadi tantangan menarik. Belum lagi mengolahnya menjadi karya yang dahsyat di mata banyak orang.

Enaknya menjadi penyuka karya non fiksi adalah kita jadi banyak belajar buat yang masih awam. Bagi yang sudah paham latar belakang karya non fiksi tersebut, melakukan ricek terhadapnya pasti menyenangkan. Bisa lalu menyulut untuk memberikan komentar atau apresiasi.

Jadi, pilih fiksi atau non fiksi? Atau.. bagaimana kalau keduanya?


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Mksi ulasannya para redaktur yang rajin-rajin.
    *muji-muji dulu. Hehe...

    Sebenarnya saya sangat penasaran dengan 'aliran-aliran' dalam berfiksi, khusus untuk prosa (cerpen atau novel). Bila ada waktu tolong buat ulasan yang tajam, yah.

    Mksi sebelumnya.
    *_*

  • senyuman sijingga
    senyuman sijingga
    1 tahun yang lalu.
    lebh tertarik FIKSI