UWRF 2016: Gebrakan Layak Tunggu dari 5 Penulis Hebat Nasional

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 14 September 2016
UWRF 2016: Gebrakan Layak Tunggu dari 5 Penulis Hebat Nasional

Penyuka sastra nasional pasti tak asing dengan lima nama ini; Dewi Lestari, Eka Kurniawan, Ratih Kumala, Seno Gumira Ajidarma dan Djenar Maesa Ayu. Kelimanya telah menelurkan karya luar biasa yang membuat nama mereka mempunyai basis penggemar setia di kancah sastra tanah air.

Dalam ajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF 2016), kelimanya akan menyapa penikmat sastra dalam beberapa sesi, ada yang khusus membahas karya mereka ada pula yang tampil dalam sesi dengan tema umum.

Supernova. Novel debutan Dewi ini sukses melejitkan namanya, hingga judul ini pun merambah dunia perfilman. Deretan judul yang juga tak kalah populer miliknya adalah Perahu Kertas, Filosofi Kopi, Madre dan Rectoverso.  Dewi akan tampil dalam sesi ’15 Tahun Supernova’ pada 28 Oktober 2016. Pastinya ini akan jadi kesempatan emas bagi penggemar Supernova untuk berdiskusi langsung dengan kreatornya.

Eka Kurniawan mencatat prestasi membanggakan tahun ini dimana salah satu novelnya, Lelaki Harimau, masuk ke dalam daftar nominasi penghargaan sastra bergengsi The Man Booker Prize International. Judul lainnya, Cantik Itu Luka, juga banyak meraih simpati pembaca. Eka akan berbagi cerita tantangan menjadi penulis yang kini dikenal dunia dalam sesi sesuai dengan namanya sendiri pada 27 Oktober 2016. Ia juga akan membahas novel seperti apa yang berpotensi melejit di pasar internasional.

Ratih Kumala, jebolan jurusan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret ini telah menulis enam fiksi, dimana salah satunya, Gadis Kretek, telah tersedia dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman. Ratih akan mengisi sesi ‘Evolving English’ pada 28 Oktober 2016 bersama dengan penulis tenar lainnya, seperti Leila S. Chudori dan Mitchell J. Jackson.

Seno Gumira Ajidarma dikenal sebagai penulis dan fotografer yang mumpuni. Ia banyak menyuarakan topik pemberontakan, terutama saat masih zaman Orde Baru, hal yang dianggap tabu pada saat itu. Beberapa karyanya adalah Sepotong Senja untuk Pacarku, Saksi Mata, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara dan Penembak Misterius: Kumpulan Cerita Pendek. Ia berhasil merengkuh penghargaan bergengsi, seperti SEA Write Award, Dinny O’Hearn Literary Prize dan Khatulistiwa Award.  Seno akan mengisi sesi ‘Fact or Fiction’ pada 27 Oktober 2016. Sesuai dengan judulnya, sesi ini akan mengupas cara menyeimbangkan antara kebenaran dan cerita dengan tetap fokus pada alur kisah.

Seno juga akan berduet dengan Djenar Maesa Ayu untuk sesi ‘Nay’ pada 28 Oktober 2016. Djenar berbicara sangat lantang dalam novelnya Mereka Bilang Saya Monyet, buku yang menjadikannya penulis kontroversial di Indonesia. Ia berani merambah tema yang dianggap tabu dan tak ragu menuai sensasi. Selain menulis, Djenar juga piawai dalam menulis naskah dan membuat film.

Beragam tema yang akan diangkat menyokong filosofi UWRF selama ini dimana untuk tahun ini panitia memilih topik Tat Tvam Asi, aku adalah engkau, engkau adalah aku’. Singkatnya, slogan ini berarti ‘kita semua satu’, seluruh perbedaan tidak seharusnya menjadi bibit permusuhan. Melainkan diharapkan perbedaan menjadi identitas yang membentuk Indonesia yang unik dan munculnya perdebatan tentang hal yang dinilai tabu bisa justru membentuk negara yang lebih cerdas.

 Foto diambil dari laman Facebook resmi UWRF 2016.