Sidik Nugroho: Menulis, Senjata Menyenangkan Kalahkan Kesunyian

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Buku
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Sidik Nugroho: Menulis, Senjata Menyenangkan Kalahkan Kesunyian

Sebelum jatuh cinta dengan menulis, Sidik Nugroho menghabiskan waktu menonton berita di warung kopi atau melamun untuk mengatasi rasa sepi yang ia alami. Setelah menemukan keasyikan tersendiri dalam menulis, hobinya tersebut menjadi cara ampuh mengalahkan rasa sunyi.

“Ketika menulis dalam kesunyian, imajinasi bergerak menjadi kehidupan—kata menjadi kalimat, kalimat menjadi cerita, dan cerita menjadi karya,” kata pria kelahiran 1979 tersebut. Ia pun merambah dunia kepenulisan dalam berbagai genre, mulai dari novel bertemakan remaja hingga cerita detektif. Beberapa judul yang pernah ia terbitkan, diantaranya cerpen remaja yang ditulisnya bersama Arie Saptaji Never Be Alone, novel fantasi Kisah-Kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat dan novel Surga di Warung Kopi.

Bagi Sidik sendiri, Kisah-Kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat adalah karya yang paling ia sukai. “Saya memfavoritkannya karena sangat menikmati proses kreatifnya yang muncul begitu tak terduga. Cerita itu lahir karena saya melihat sebuah panti asuhan yang terbakar, dan setahun sebelumnya keponakan pertama saya lahir, namanya Jessica Lestari. Tokoh utama dalam cerita adalah Lestari, sesuai nama keponakan saya,” katanya. Ia pun mempersembahkan novel tersebut untuk ketiga keponakannya: Jessica, Gracia, dan Catherine.

Walau telah mahir menggarap cerita banyak tema, Sidik mengatakan dirinya kemungkinan akan lebih berfokus pada kisah dengan latar kejahatan, misteri dan hukum. Sepertinya hal ini akan melekat dengan diri Sidik dimana terbukti novelnya yang bergenre pembunuhan Tewasnya Gagak Hitam dinilai oleh kurator Ubud Writers and Readers Festival 2016 sebagai yang terbaik dari total empat novel yang ia kirimkan; Tewasnya Gagak Hitam, Melati dalam Kegelapan, Surga di Warung Kopi, dan Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat serta beberapa artikel.

Sidik terpilih dari total 894 penulis yang mendaftarkan diri ke tim kurator Ubud Writers and Readers Festival 2016 yang akan berlangsung antara 26 dan 30 Oktober 2016. Ia adalah satu dari 16 emerging writers yang akan bersanding dengan penulis hebat dunia lainnya dan tampil dalam berbagai diskusi mengenai sastra, buku dan tema terkait lainnya.

Dalam acara sastra bergengsi tersebut, Sidik mengatakan ia bersedia terlibat dalam program terkait dengan anak-anak sebab ia pernah mengajar anak-anak sekolah dasar dan sering merasa gembira kalau berada di dekat anak-anak. Pria yang hobi bermain gitar ini gemar membaca banyak penulis, diantaranya J.R.R. Tolkien, Seno Gumira Ajidarma, C.S. Lewis, Raudal Tanjung Banua, Agatha Christie, S. Mara Gd, Stephen King, Agus Noor, Roald Dahl, Bastian Tito, Mitch Albom, Yusi avianto Pareanom, Philip Yancey, Arie Saptaji, Neil Gaiman, Remy Sylado dan beberapa penulis lainnya.