Karya Pilihan Minggu Ini

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Agustus 2016
Karya Pilihan Minggu Ini

 

Tulisan karya Dicky Armando : "Negeri Fiktif"

 

Catatan redaksi: Puisi persembahan anak bangsa untuk perayaan hari kemerdekaan RI ke-71 yang sungguh jujur, menyuratkan ironi yang dihadapi oleh negeri ini. Dengan menggunakan kalimat sederhana, santun, puisi ini malah terasa sangat berkesan. Fakta yang ada dipilih secara cermat oleh Dicky Armando, yang pastinya pembaca akan mengiyakan bahwa memang begitulah kondisi negara ini. Yang paling hebat dalam puisi ini adalah mengajak siapa pun yang membacanya sejenak merenung di balik hingar bingar lomba dan acara kemeriahan yang biasanya dilakukan selama hari kemerdekaan ini. Apakah kita benar-benar merdeka? Apakah kita sudah benar-benar terbebas dari penindasan, bahkan oleh saudara sendiri? Bravo, Dicky!

 

 

Video karya Hendro Noor Herbanto : "I Love Indonesia"

 

Catatan redaksi: 'I Love Indonesia'. Kuat, pantang menyerah, bisa. Pantang mundur. Indonesia, pasti juara.

Lagu bertajuk 'I Love Indonesia' karya Songolast Project ini penuh semangat dan optimisme. Bentuk kecintaan anak bangsa yang layak diamini. Layak ditularkan ke khalayak.

Sayangnya, lagu sebagus itu direkam dengan video dan sound system ala kadarnya. Saatnya para kreator belajar sedikit lebih jauh tentang olah video dan olah suara secara digital, agar karya-karya semacam ini bisa dinikmati dengan asyik oleh publik.

 

 

Foto karya Cut Winda Afrionita : "Kereta Listrikku"

 

Catatan redaksi: Presisi pengambilan foto yang bagus, dengan mengambil angle di tengah-tengah gerbong kereta api dan tiang yang berada di tengah menjadi patokannya. Lighting yang terdapat dalam gerbong pun cukup bagus, serta gerbong yang bersih, memunculkan kesan mewah pada gerbong ini. Bayangan pegangan tangan yang tersorot oleh cahaya lampu juga melengkapi keunikan foto ini. Nice picture! :)

 

 

Grafis karya Fadilah Hafidz : "Maafkan Aku"

 

Catatan redaksi: Sepintas grafis di samping terlihat biasa saja. Balon warna merah dan putih sebagai penanda kemeriahan perayaan hari ulang tahun ke-71 Republik Indonesia. Yang paling ‘ngena’ dari grafis kali ini adalah pesan yang ingin disampaikan. Sementara banyak yang mengunggah ucapan syukur dan harapan ke depan, Fadilah Hafidz justru menyadari bahwa ia belum berbuat banyak untuk Merah dan Putih di usianya yang menginjak 27 tahun. Kalimat terakhirnya lah yang paling ‘ngena’; harapan bahwa semua merdeka ini terbagi rata. Sungguh kalimat singkat yang membuat kita bisa merenung dan menanyakan dua hal tersebut kepada diri sendiri: apakah yang sudah kita lakukan untuk negara kita tercinta ini? Dan apakah semua warga negara Indonesia sudah merdeka, bebas, misalnya memperoleh pendidikan yang layak? 

 

 

 

Audio karya Hilma YR : "Menunggu = Berharap"

 

Catatan redaksi: Puisi audio karya Hilma YR ini suara audionya terlalu lemah. Tak lepas dari itu, intonasi dalam membacakan puisinya pun terlalu datar, terkesan seperti pembunuh berdarah dingin. Kurangnya penghayatan terlihat dalam membacakan puisinya yang agak terburu-buru dan berdampak kepada pendengar yang tidak bisa ikut menghayati.

Meskipun puisi audio ini masih ada beberapa bagian yang harus dibenahi, tapi isi dari audio ini cukup menarik perhatian. Isi puisi yang dikemas dengan pemilihan kata-kata yang apik, akan menjadi bahan renungan pendengar. Tidak akan cukup sekali untuk mendengarkan puisi audio ini.

Karena hidup untuk menunggu dan berharap
Menunggu mimipi menjadi nyata
Menunggu lara berubah bahagia
Menunggu waktu dimana raga melepas nyawa
Berharap takdir baik selslu menghampiri
Berharap esok hari tak hanya menjadi mimpi
Berharap hidup tak sekedar hidup

 

 

Gambar oleh Reni Fauziah.