Deasy Tirayoh: Menulis Jadi Gerbang Melihat Dunia Secara Berbeda

Redaksi inspirasi.co
Karya Redaksi inspirasi.co Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 18 Agustus 2016
Deasy Tirayoh: Menulis Jadi Gerbang Melihat Dunia Secara Berbeda

Rasa gagal yang sempat melingkupi Deasy Tirayoh justru membuat penulis asal Kendari ini menggeluti dunia tulis menulis. Jalan hidup yang membawanya menjadi seorang ibu muda awalnya membuat Deasy merasa gagal. Menulis membuatnya melakukan perenungan di sudut dunianya yang terasa sempit.

“Self healing adalah hal yang mengawali saya menekuni dunia tulis menulis, mungkin ini terkesan klise, tetapi begitulah,” kata wanita penulis berbakat ini. Baginya, menulis membuka pintu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Mulai dari buku harian, Deasy mengasah talentanya ke dunia fiksi hingga karyanya banyak dibaca orang saat ini.

“Jadi jika ditanya apa  yang memotivasi saya dalam menelurkan karya? Rasanya saya menulis selain untuk mencatat ingatan/peristiwa, adalah  juga untuk membagikan gagasan,” tambahnya.

Ia adalah satu dari 16 emerging writers yang akan ikut serta dalam ajang sastra bergengsi Ubud Writers and Readers Festival 2016 antara 26 dan 30 Oktober 2016. Ia dan ke-15 penulis potensial lainnya telah menyisihkan total 894 penulis yang mengirimkan karya terbaik mereka agar terpilih tampil di ajang ini, bersanding dengan penulis hebat dunia lainnya dan tampil dalam berbagai diskusi mengenai sastra, buku dan tema terkait lainnya.

Ia tidak menyangka bisa terpilih sebab memahami ia bersaing dengan banyak penulis hebat apalagi dinilai oleh kurator yang mumpuni di bidangnya masing-masing.

“Hal itu  justru sempat membebani pikiran saya,  apa iya saya layak? Tetapi kemudian saya berkesimpulan bahwa di ajang prestisius ini, saya sedang diberi  kesempatan untuk belajar dan belajar lagi,” imbuhnya.

Deasy menyertakan delapan cerita pendek yang belum dibukukan, yaitu Mass In B Minor, The Kiss, Udumbara, Pojok 9, Kongga, Purnama di Atap Rumah, Metamorfosis Ligo, Bono Bino, serta  sebuah buku kumpulan prosa mini bertajuk Tanda Seru di Tubuh, dalam kompetisi menjadi penulis yang terpilih dalam perhelatan ini.

Sederhana hal yang ingin Deasy usung dalam setiap karyanya. Katanya, setiap karya adalah jejak bagi dirinya sendiri yang berkembang mengikuti pembelajaran yang ia terima.

Pesannya bisa beragam. Tapi dalam semua itu, sebuah pesan yang ingin saya utarakan: tinggalkan jejak, jika bukan sebagai pengingat diri sendiri, barangkali bisa menginspirasi orang lain yang melihat.”

Berbekal alasan utama yang ia pegang dalam menulis, bagi Deasy inspirasi terbesar dalam berkarya adalah dirinya sendiri walau ia mengagumi gagasan Eka Kurniawan, menggemari imajinasi Kafka dan terhanyut oleh gaya tutur Ayu Utami.

“Dengan terus merawat semangat belajar maka yang membuat saya terinspirasi adalah diri saya sendiri dalam 10 tahun ke depan,” pungkasnya.

Tak sabar melihat kiprahmu di UWRF 2016 mendatang, Deasy!

Foto oleh Ubud Writers and Readers Festival 2016.