Kenapa Membaca Saat dalam Perjalanan Bikin Pusing dan Mual? Ini Tiga Faktanya!

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Kesehatan
dipublikasikan 13 November 2017
Kenapa Membaca Saat dalam Perjalanan Bikin Pusing dan Mual? Ini Tiga Faktanya!

Pernahkah Anda melihat seseorang membaca saat sedang naik kendaraan? Atau barangkali Anda salah satunya? Tidak dapat dipungkiri bahwa membaca seolah mampu memangkas lamanya perjalanan. Menghabiskan beberapa halaman buku atau artikel di smartphone untuk dibaca membuat Anda tiba di tempat tujuan tanpa terasa. Tapi efeknya kadang membuat Anda pusing dan mual. Mengapa demikian? Berikut ulasannya sebagaimana dilansir Times of India.

SCIENCE EXPLAINS IT

Keadaan ini dikenal dengan motion sickness atau penyakit gerak. Motion sickness terutama berkaitan dengan tiga bagian tubuh, yakni telinga, mata dan saraf sensorik kita. Kombinasi dan reaksi ketiganya membuat Anda merasakan apa yang Anda rasakan saat beraktivitas. Menurut para ahli, saat duduk di mobil atau kendaraan yang bergerak, mata kita tertuju pada satu benda sementara ada gerakan di telinga dan saraf kita. Gerakan ini mengirimkan informasi sensorik ke otak kita yang mengatakan bahwa kita sedang bergerak. Karena ada beberapa aktivitas yang sedang berlangsung dan otak kita mencoba untuk memutuskan antara gerakan saluran telinga bagian dalam, mata dan saraf kita pada saat bersamaan, hal itu menyebabkan kebingungan. Kekacauan gerakan inilah yang menyebabkan mual atau pusing.

THE CONFUSION

Ini berarti bahwa sementara mata Anda tidak dapat melihat ke luar dan statis pada satu titik (buku, koran atau smartphone), tubuh Anda, di sisi lain, bergerak. Oleh karena itu, di satu sisi, mata Anda mengatakan kepada otak Anda bahwa Anda tidak bergerak tapi saluran telinga dan saraf Anda mengatakan sebaliknya.

COMMON IN CHILDREN

Motion sickness adalah fenomena yang sangat umum dan bisa terjadi pada siapa saja. Ini sama sekali tidak berarti bahwa Anda adalah orang yang tidak sehat atau sedang terserang penyakit. Namun kondisi ini lebih sering dialami anak-anak ketimbang orang dewasa karena otak mereka masih dalam tahap perkembangan.

 

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 33