Tiga Cara Ajarkan Anak Berpikir Sebelum Bertindak

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Inspiratif
dipublikasikan 09 November 2017
Tiga Cara Ajarkan Anak Berpikir Sebelum Bertindak

“Namanya juga anak-anak,” kalimat ini kerap diucapkan oleh orang dewasa saat melihat aksi anak yang kurang berkenan. Namun, pernahkah Anda berpikir untuk mengajari anak cara berpikir sebelum bertindak?

Misalnya, ketika si kecil tetap menerobos masuk ke dalam ruangan yang sudah tertera tanda dilarang. Meski Anda sudah melarangnya, tetap saja tidak digubris. Atau terkadang, anak bisa saja mengatakan atau melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang, yang bisa menimbulkan pernyataan memalukan, menyakitkan atau bisa menciderai dirinya dan orang di sekitarnya.

Menurut penuturan psikiater Dr Lim Boon Leng dari Dr BL Lim Centre for Psychological Wellness, sebagaimana dikutip Channel News Asia, “Kontrol impuls atau pengendalian diri merupakan kemampuan yang perlu dimiliki setiap individu untuk menahan diri melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat atau berbahaya.”

Lalu bagaimana cara mengajak anak berpikir sebelum berbicara dan bertindak?

Latihan mengakui perasaan

Ketika anak sedang menghadapi emosi tertentu, tanyakan pada anak, emosi apa yang ia rasakan. Latih anak untuk mengakui perasaannya. Setelah ia paham pada perasaannya, barulah Anda dapat mengajarkan bagaimana meluapkan perasaannya. Misalnya, ketika anak sedang marah, ia tidak perlu memukul orang lain atau memarahi orang lain dengan kata-kata yang kasar. Jelaskan padanya bahwa hal itu akan menyakiti orang tersebut.

Pupuk keterampilan problem solving

Ketika anak menghadapi masalah, Anda bisa melatih anak dengan memancingnya untuk berpikir dan mencari solusi. Bebaskan anak untuk mengeluarkan ide-idenya. Peran Anda hanya sebagai filter. Lakukan hal ini dengan situasi yang menarik, agar anak tidak merasa dipaksa. Usahakan untuk tidak terlalu sering membantu anak, sebab bisa-bisa ia justru bergantung pada Anda. Energi dari rasa marah menggebu-gebu pada anak dapat dialihkan ke kegiatan yang positif.

Terapkan delayed gratification

Istilah delayed gratification, yang lebih dulu dikenal di Prancis ini tentu sudah sangat akrab di kepala Anda. Dulu, orangtua di Prancis menerapkan secara tidak sengaja istilah “Ya, boleh. Tapi, tunggu, atau nanti saja, ya.” Delayed gratification akan mengajak anak untuk menunda terlebih dahulu keinginannya. Hal ini menggeser fokus dari penghargaan eksternal ke kepuasan internal untuk pengendalian diri.

Banyak anak-anak yang kekurangan kontrol sebelum melakuan sesuatu. Sebelum ia mendapati konsekuensi yang merugikan dirinya, tidak ada salahnya jika Anda memberikan ‘kelas khusus’ pengendalian diri sedini mungkin.

 

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 145