Tiga Konsekuensi Sosial Akibat Stigma Negatif Pada Penderita Obesitas

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Renungan
dipublikasikan 07 November 2017
Tiga Konsekuensi Sosial Akibat Stigma Negatif Pada Penderita Obesitas

Selain gangguan kesehatan, konsekuensi sosial kelebihan berat badan dan obesitas juga terbilang serius. Orang yang kelebihan berat badan maupun obesitas sering menjadi sasaran bias dan stigma, serta rentan terhadap sikap negatif dalam berbagai bidang kehidupan termasuk tempat kerja, institusi pendidikan, fasilitas medis, media massa, dan hubungan interpersonal.

Stigma dan bias umumnya mengacu pada sikap negatif yang mempengaruhi interaksi interpersonal dan aktivitas kita dengan cara yang merugikan. Stigma dapat muncul dalam beberapa bentuk, termasuk jenis bias verbal (seperti ejekan, ejekan, penghinaan, stereotip, nama yang menghina, atau bahasa yang merendahkan), stigma fisik (seperti menyentuh, menyambar, atau perilaku agresif lainnya), atau hambatan lain seperti peralatan medis yang terlalu kecil untuk pasien obesitas, kursi di tempat umum yang tidak mengakomodasi orang gemuk, atau toko yang tidak menyediakan pakaian ukuran ‘ekstra’). Dalam bentuk yang ekstrem, stigma dapat mengakibatkan bentuk diskriminasi yang halus dan terang-terangan, semisal diskriminasi kerja seperti tidak diberi posisi atau promosi karena penampilannya, meski memenuhi syarat.

Berikut beberapa konsekuensi sosial yang kerap dialami oleh orang kelebihan berat badan maupun obesitas seperti dilansir The Obesity Society dalam sebuah artikel berjudul “Obesity, Bias, and Stigmatization”.

Lingkungan pekerjaan

Studi eksperimental menemukan bahwa ketika resume diikuti oleh gambar atau video dari orang yang kelebihan berat badan (dibandingkan orang dengan berat badan "rata-rata"), pemohon diberi nilai negatif dan cenderung tidak dipekerjakan. Penelitian lain menunjukkan bahwa karyawan yang kelebihan berat badan dianggap memiliki banyak stereotip negatif termasuk malas, ceroboh, kurang kompeten, kurang dalam model disiplin diri, tidak menyenangkan, dan kurang teliti. Selain itu, karyawan yang kelebihan berat badan mungkin mengalami hukuman upah, karena mereka cenderung dibayar lebih sedikit untuk pekerjaan yang sama, cenderung memiliki pekerjaan dengan bayaran lebih rendah, dan cenderung sulit mendapat promosi ketimbang orang kurus dengan kualifikasi yang sama.

Lingkungan pendidikan

Di sekolah, siswa yang kelebihan berat badan atau obesitas dapat menghadapi pelecehan dan ejekan dari teman sebaya, serta sikap negatif dari guru dan pendidik lainnya. Di tingkat perguruan tinggi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa yang kelebihan berat badan, terutama wanita, cenderung tidak diterima di perguruan tinggi daripada teman sebaya mereka yang memiliki berat badan ‘normal’ meskipun memenuhi kualifikasi.

Lingkungan kesehatan

Di fasilitas medis, sikap bias terhadap pasien obesitas telah didokumentasikan di antara dokter, perawat, psikolog, ahli gizi, dan mahasiswa kedokteran, dan mencakup persepsi bahwa pasien obesitas tidak cerdas, tidak berhasil, berkemauan lemah, tidak enak, terlalu manja dan malas. Salah satu konsekuensi yang mengkhawatirkan dari sikap negatif oleh profesional perawatan kesehatan adalah bahwa pasien obesitas memilih menghindari perawatan medis karena pengalaman negatif ini. Penelitian telah menunjukkan bahwa pasien yang kelebihan berat badan kerap membatalkan atau menunda layanan perawatan kesehatan preventif, terutama di kalangan wanita.

Pada taraf tertentu, stigma dapat memperburuk perilaku dan kondisi kesehatan fisik maupun psikis mereka yang kelebihan berat badan dan mengalami obesitas. Lebih parahnya, studi terbaru menunjukkan adanya hubungan positif antara obesitas dan usaha bunuh diri di kalangan kaum muda. Sebab itu, memperbaiki stigma yang telah tertanam di masyarakat menjadi salah satu cara untuk menekan angka kematian yang disebabkan obesitas setiap tahunnya.

 

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 144