Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 3 November 2017   16:08 WIB
Tiga Negara Ini Punya Cara Unik Kurangi Jumlah Perokok

Kecanduan nikotin yang dialami perokok membuatnya sulit untuk berhenti. Bahkan sebuah penelitian menyebut seseorang baru bisa benar-benar berhenti merokok jika sudah 30 kali mencoba. Nah, demi menjaga kesehatan masyarakat, sekaligus mengurangi beban keuangan untuk berobat akibat penyakit karena rokok, negara-negara ini pun melakukan terobosan unik untuk mengurangi jumlah perokok. Apa saja?

Beri libur tambahan

Sebuah perusahaan Jepang bernama Piala memberikan hari libur tambahan sebanyak 6 hari dalam setahun kepada pegawai yang tidak merokok. Hal ini merupakan kompensasi akibat jam masuk kerja dan pulang kerja yang sama dengan para perokok. "Para perokok bisa menghabiskan 15 menit untuk merokok satu batang, dan dalam sehari bisa merokok hingga 6 sampai 10 batang. Namun mereka masuk dan pulang kerja di jam yang sama dengan pegawai yang tidak merokok, sehingga jam kerja mereka lebih sedikit," cerita Takao Asuka, salah satu petinggi perusahaan Piala, seperti dikutip NewYork Times.

Hal inilah yang membuat Takao memberlakukan peraturan pemberian hari libur tambahan bagi pegawai yang tidak merokok. Terbukti, kebijakan ini mendapat respons baik dari para pegawai. Bahkan sudah ada 4 pegawai yang berhenti merokok sejak kebijakan ini dilakukan awal September lalu.

Bungkus rokok polos

Australia menjadi negara pertama yang sukses menerapkan peraturan soal bungkus rokok polos. Di sana, rokok berbagai tipe dijual dengan kemasan yang sama, dan ditutupi oleh pictorial health warning (PHW) ukuran besar. Kebijakan ini terbukti efektif karena setelah 4 tahun dilaksanakan, sekitar 300.000 orang perokok berhenti setiap tahunnya. Para mantan perokok mengaku kehilangan minat untuk merokok karena desain bungkus rokok yang tak lagi menarik.

Kupon bagi perokok hamil

Rumah sakit di Prancis memberikan kupon pada ibu hamil yang merokok agar mau berhenti merokok, minimal selama kehamilan berlangsung. Hal ini merupakan respons dari studi yang menyebut 1 dari 5 wanita hamil di Prancis merupakan perokok aktif. Menteri Kesehatan Prancis, Marisol Touraine mengatakan, Prancis merupakan negara dengan ibu hamil perokok terbanyak di Eropa. Padahal, merokok selama hamil dapat mengurangi suplai oksigen ke janin, sehingga meningkatkan risiko kelahiran prematur atau bayi dengan berat lahir yang rendah, bahkan bayi lahir mati. Para ibu hamil diberi kupon senilai 20 Euro (sekitar Rp 300.000), dan secara bertahap kupon akan diberikan beberapa kali sampai mereka bisa mengumpulkan sekitar 300 Euro (Rp 4,5 juta).

 

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber

Karya : Inspirasi Dalam Tiga