Indonesia Krisis Petani, Pemerintah Wajib Perhatikan Tiga Aspek Ini

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 Oktober 2017
Indonesia Krisis Petani, Pemerintah Wajib Perhatikan Tiga Aspek Ini

Baru-baru ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merilis hasil survei melalui Pusat Penelitian Kependudukan, yang memperlihatkan bahwa Indonesia terancam krisis petani. Salah satu penyebabnya yakni karena usia petani nasional mengalami ancaman penuaan lantaran sebagian besar petani berusia di atas 45 tahun.

Hal tersebut merujuk hasil survei yang mencatat bahwa rata-rata usia petani padi di tiga desa pertanian padi Jawa Tengah mencapai 52 tahun dan sedikit pemuda yang bersedia untuk melanjutkan pertanian keluarga. Bahkan anak petani yang kembali menjadi petani untuk melanjutkan usaha tani keluarga hanya berjumlah sekitar tiga persen.

Berkaca dari hasil survei, jika kondisi tersebut dibiarkan, maka Indonesia akan mengalami krisis petani. Menurut Vanda Ningrum, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, pemerintah perlu membuat kebijakan regenerasi petani di negeri ini untuk mencegahnya, yakni dengan mendorong pemuda menjadi petani. Mengutip dari situs resmi LIPI yakni lipi.go.id, berikut beberapa aspek yang perlu diperhatikan pemerintah untuk mendorong pemuda agar mau menjadi petani.

Pertama, kebijakan yang dapat memberikan akses lahan bagi pemuda. Kedua, kebijakan yang memberikan jaminan pasar bagi pemuda tani untuk mengelola pertanian. Kemudian yang ketiga adalah perlunya pendidikan mengenai teknologi serta variasi teknik budidaya pertanian yang berkelanjutan kepada kalangan pemuda pedesaan terutama pada lahan pertanian yang terbatas. Teknik budidaya yang berkelanjutan ini akan mengurangi ketergantungan petani pada penggunaan pupuk kimia dan lebih adaptif pada perubahan lingkungan.

Keberadaan pemuda tani sangat penting, khususnya terkait dengan ketersediaan pangan pada masa yang akan datang dan sebagai bentuk gerakan petani otonom dalam era globalisasi saat ini. Oleh itu, perhatian besar dari pemerintah menjadi faktor penting untuk terciptanya regenerasi petani agar mampu menopang kebutuhan pangan nasional.

Pada 2014 silam, Kementerian Pemuda dan Olahraga pernah mencatat sebanyak 52.000 pemuda meninggalkan desa dan mencari penghidupan di perkotaan. Sementara itu, ketersediaan lapangan kerja di kota belum mencukupi untuk menampung angkatan kerja dari desa. Sebagian besar dari mereka, bekerja di sektor informal tanpa jaminan kerja yang layak, sedangkan sisanya yang tidak mendapatkan pekerjaan akan menambah angka pengangguran di kota.

Modernisasi yang terjadi pada keluarga, sekolah, sawah dan aktivitas non pertanian telah membentuk pemuda pedesaan bersikap modern. Sehingga akhirnya mereka memilih migrasi ke kota dibanding bertahan di desa menjadi seorang petani.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 157