Tiga Fakta Unik Tentang Batik, Warisan Budaya Paling Gaya

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 Oktober 2017
Tiga Fakta Unik Tentang Batik, Warisan Budaya Paling Gaya

Kamu pasti sudah tidak asing dengan kalimat “Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia.” Apalagi sejak resmi diakui UNESCO sebagai Masterpiece of The Oral and Intangible of Humanity pada 2009 silam, warisan budaya yang satu ini makin dikenal oleh dunia. Sebelumnya, batik pernah diklaim sebagai warisan budaya oleh negara tetangga. Namun setelah melalui proses yang panjang dan memakan waktu bertahun-tahun, akhirnya batik berhasil diakui sebagai warisan budaya aseli Indonesia.

Dulu, sekira tahun 90-an, batik memang lebih sering dipakai oleh orang tua, sehingga anak muda pada zaman itu banyak yang tidak nyaman mengenakan batik karena terkesan tua. Lain halnya dengan sekarang, batik sudah berhasil ‘bersahabat’ dengan kalangan muda melalui berbagai inovasi. Tidak hanya bisa dikenakan saat menghadiri acara formal saja tetapi bisa juga dipakai untuk bersantai. Warisan budaya yang menarik, bukan? Berikut ini ada beberapa fakta menarik lainnya tentang batik yang telah kami rangkum dari berbagai sumber.

Pertama, corak batik pada awalnya sebatas gambar binatang dan tumbuh-tumbuhan saja. Seiring berjalannya waktu, tradisi membatik yang diwariskan secara turun-temurun ini terus mengalami perkembangan dari segi corak dan cara pembuatannya. Jika dulu kita hanya melihat batik dalam bentuk kain atau baju, sekarang batik bisa ditemui dalam bentuk tas, sepatu, bahkan gelas dan frame kacamata.

Kedua, keunikan batik tidak dilewatkan oleh para desainer kelas dunia untuk dieksplorasi. Diane von Furstenberg, Burberry Prorsum, Nicolle Miller, dan Dries van Noten adalah beberapa perancang top dunia yang sudah bereksperimen dengan batik untuk baju-baju rancangan mereka. Jadi, jangan heran saat artis mancanegara semisal Jessica Alba ternyata juga kedapatan memakai batik.

Ketiga, batik sebagai produk fashion tentunya tidak hanya disukai di dalam negeri. Selama ini, Amerika Serikat adalah negara yang paling banyak mengimpor batik, disusul Jerman, Jepang, dan Korea Selatan yang juga masuk daftar tujuan ekspor batik. Tahun 2015 lalu, total nilai ekspor batik ke luar negeri mencapai kisaran Rp2,1 triliun. Jadi, devisa negara juga turut bertambah berkat tingginya minat terhadap batik di luar negeri.

Fakta-fakta ini mengingatkan kita bahwa warisan budaya ibarat harta karun yang wajib kita jaga. Sebab jika tidak, warisan tersebut bisa saja berpindah ke tangan lain yang juga menganggapnya berharga. Karenanya, mencintai produk dalam negeri menjadi salah satu cara kita merawat dan melestarikan budaya sendiri.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 102