Pintar Gunakan E-Money, Ketahui Tiga Kelebihan dan Kekurangannya, Yuk!

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Ekonomi
dipublikasikan 19 September 2017
Pintar Gunakan E-Money, Ketahui Tiga Kelebihan dan Kekurangannya, Yuk!

Belakangan, Bank Indonesia memang mendorong penggunaan e-money alias uang elektronik untuk mengurangi peredaran uang tunai. Harapannya, e-money bisa mengurangi biaya cetak uang yang mahal dan meningkatkan efisiensi transaksi. Alhasil, penggunaan e-money memang meningkat pesat.

Berdasarkan data BI, tahun 2003, volume transaksi e-money di Indonesia mencapai 137,9 juta transaksi melalui 36,2 juta kartu dengan nominal uang yang beredar adalah Rp 2,9 triliun. Padahal, saat awal peluncuran e-money tahun 2007, volume transaksi baru 586.000 transaksi melalui 165.100 kartu dengan nilai nominal Rp 5,26 miliar. Tahun ini sampai Juli lalu, jumlah transaksi e-money mencapai 96,2 juta transaksi melalui 32,4 juta kartu dengan nominal Rp 1,94 triliun.

Bagi yang belum tahu, e-money gampangnya adalah uang yang digunakan dalam transaksi dengan cara elektronik. Uang ini disimpan dalam suatu media elektronis yang dimiliki seseorang. Nilainya terserah orang tersebut. Ia tinggal mengisi atau mentransfer sejumlah uang ke e-money tersebut sebelum dipakai untuk transaksi.

Ada beberapa kelebihan e-money dibanding uang fisik. Pertama, Anda bisa melakukan berbagai transaksi tanpa membawa banyak uang fisik. Kedua, Anda bisa melakukan transaksi lebih cepat karena tinggal mengurangi nilai di e-money sesuai dengan nilai transaksi, tak perlu menghitung berlembar uang. Ketiga, slip dari mesin EDC (electronic data capture), yang digunakan untuk proses tapping, juga bisa menjadi dokumentasi transaksi kita sehingga memudahkan monitoring ke mana saja uang dibelanjakan.

Namun, ada juga kekurangan e-money. Pertama, belum semua transaksi bisa memakai e-money karena e-money baru bisa dipakai di merchant yang bekerja sama dengan penerbit. Kedua, risiko seluruh uang hilang ketika pengguna kehilangan kartu atau piranti yang dipakai menyimpan e-money. Ketiga, jika disimpan di e-money, uang kita sebenarnya tidak berbunga sehingga kalau bagi orang yang mengerti investasi, ini termasuk hal yang merugikan, apalagi, ada beberapa penyedia kartu yang mengenakan charge.

Dari kacamata perencanaan keuangan, e-money bisa kita anggap sebagai versi digital dari sistem anggaran amplop. Jadi, begitu menerima gaji, Anda sekarang bisa langsung membaginya ke dalam amplop-amplop yang berwujud e-money. Anda bisa membagi amplop-amplop digital ini sesuai dengan keperluan Anda, misalnya amplop untuk bayar tol, amplop untuk biaya transportasi umum, amplop untuk pembayaran berbagai tagihan rumahtangga.

Sangat tidak disarankan untuk mengisi uang elektronik terlalu banyak. Sebab, e-money seharusnya Anda fungsikan untuk membatasi pengeluaran. Apalagi, bila kartu hilang, uang Anda juga ikut hilang. Jadi, uang elektronik cukup diisi sesuai dengan rencana pengeluaran saja.

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 61