Tiga Gelaran Unik Sambut Tahun Baru Islam

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Budaya
dipublikasikan 19 September 2017
Tiga Gelaran Unik Sambut Tahun Baru Islam

Indonesia kaya akan budaya dan tradisi yang tersebar di berbagai daerah mulai ujung timur hingga barat. Demikian juga tradisi unik yang dilakukan dalam menyambut perayaan pergantian tahun Hijriah. Tahun Baru Hijriah merupakan tahun baru untuk umat islam yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 21 September mendatang. Setiap tahunnya, masyarakat di Indonesia selalu merayakan malam pergantian tahun tersebut dengan berbagai tradisi dan ritual. Berikut ini adalah beberapa tradisi unik yang dilakukan di beberapa daerah Indonesia dalam rangka menyambut momentum pergantian tahun tersebut.

Kirab Kebo Bule Kraton Surakarta

Kirab Kebo Bule merupakan tradisi yang dilakukan Keraton Kasunanan Surakarta untuk menyambut datangnya Bulan Suro atau Muharram. Dalam kirab ini, sekawanan kerbau (kebo) yang dipercaya keramat yaitu Kebo Bule Kyai Slamet akan diarak keliling kota. Kebo Bule Kyai Slamet sendiri konon bukanlah sembarang kerbau. Dalam buku Babad Solo karya Raden Mas (RM) Said, leluhur kebo bule adalah hewan klangenan atau kesayangan Paku Buwono II.

Kirab yang biasanya berlangsung tengah malam ini, merupakan acara yang sangat dinanti-nanti oleh masyarakat Solo dan sekitarnya. Mereka rela menunggu berjam-jam di jalan hanya untuk menonton kawanan Kebo Bule tersebut. Selain itu, yang paling menarik dan unik dari tradisi ini adalah ketika orang-orang saling berebut berusaha menyentuh atau menjamah tubuh kebo bule dan berebut mendapatkan kotorannya yang dipercaya dapat membawa berkah.

Mubeng Beteng di Kraton Yogyakarta

Tradisi mengelilingi benteng (Mubeng Beteng) merupakan tradisi yang rutin dilaksanakan setiap malam 1 Muharram atau malam 1 Suro. Tradisi ini digelar oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan diikuti oleh ratusan warga Yogyakarta. Ritual Mubeng Beteng dilakukan dengan berbagai tata cara seperti pembacaan macapat atau kidung berbahasa Jawa sebelum acara berlangsung.

Yang menarik dari prosesi tersebut, masyarakat dan abdi dalem kraton mengelilingi benteng-benteng Keraton sejumlah hitungan ganjil dengan berjalan tanpa menggunakan alas kaki dan tidak berbicara (Tapa Bisu). Tradisi Mubeng Beteng sendiri dapat diartikan sebagai ungkapan rasa prihatin, introspeksi, serta ungkapan rasa syukur atas kelangsungan negara dan bangsa. Sedangkan ritual tapa bisu merupakan simbol dari keheningan yang merupakan bentuk refleksi manusia terhadap Tuhannya.

Jalan Sehat Sarungan di Surabaya

Berbeda dengan tradisi lain yang biasanya dilaksanakan pada malam 1 Suro, jalan sehat ini digelar pada 17 September lalu di Bulak Banteng Wetan, Surabaya. Sesuai namanya, warga di daerah tersebut ramai-ramai mengikuti jalan sehat sambil mengenakan sarung dan membaca solawat serta puji-pujian. Selain ditujukan untuk menyambut Tahun Baru Islam, kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk kecintaan masyarakat terhadap budaya sarungan yang merupakan asli Indonesia. Sehingga untuk ke depannya, Jalan Sehat Sarungan ini bisa menjadi tradisi yang melekat di masyarakat.

Peringatan tahun baru Hijriah yang dilakukan di sejumlah daerah tersebut memang tidak memiliki ketentuan yang tertulis dalam Al Quran ataupun Hadits. Namun, sah-sah saja bagi siapapun yang ingin ikut meramaikannya selama hal tersebut memberikan dampak positif.

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 110