Simak Uniknya Tiga Tradisi Pernikahan di Negara Lain, Yuk!

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Budaya
dipublikasikan 12 September 2017
Simak Uniknya Tiga Tradisi Pernikahan di Negara Lain, Yuk!

Pernikahan bukan hanya ikrar kesetiaan antara dua anak manusia yang berlangsung lewat satu dua patah kata. Momen berharga ini menjadi perayaan yang kental dengan balutan tradisi. Mulai dari makanan, pakaian, hingga pelaksanaan upacaranya. Setiap langkah yang dilakoni oleh kedua pengantin ditanamkan sebuah makna sebagai bentuk harapan baik. Di Indonesia, kita mengenal ragam tradisi dan budaya yang mewujud dalam rangkaian panjang upacara pernikahan. Lalu bagaimana di belahan dunia lainnya?

India, Pernikahan Layaknya Festival

Pernikahan adalah hajatan besar dalam masyarakat India. Mereka akan mendedikasikan seluruh ornamen budaya seperti pernak-pernik hingga tarian dalam acara pernikahan. Tak ayal, pernikahan di India terkesan seperti festival karena dihadiri 500 hingga 1000 orang dengan dandanan warna-warni dan tarian meriah. Salah satu khas di India adalah adat mengambil sepatu. Mempelai perempuan mengambil sepatu mempelai laki-laki saat masuk ke mimbar pengantin. Pengantin laki-laki harus menyogok agar sepatunya dapat dikembalikan.

Ikrar Janji Suci Meminum Sake di Jepang

Jepang masih menjunjung kepercayaan Shinto dalam melaksanakan pernikahan. Pernikahan orang Jepang diselenggarakan di Kuil Shinto dengan pakaian tradisional. Pengantin perempuan akan dilukis dengan cat putih di sekujur tubuh untuk menandakan dirinya masih gadis. Ia juga mengenakan kimono berwarna putih dan sebuah ikat kepala. Topi putih wajib dikenakan oleh pengantin perempuan sebagai simbol bahwa ia menyembunyikan “tanduk kecemburuan” terhadap ibu mertua dan perwujudan bahwa dirinya siap menjadi istri yang patuh.

Simbol penyatuan dua insan ditandai dengan minum sake bersama. Seruputan pertama menandai bahwa keduanya telah resmi menjadi pasangan hidup. Dalam tradisi Jepang bernama san-san kudo, mempelai laki-laki dan perempuan akan menyeruput sebanyak tiga kali dari nampan sake. Orang tua penganting juga ikut melakukan hal yang sama untuk menandai bahwa penyatuan tidak hanya milik kedua mempelai, tapi kedua keluarga.

Pengantin Memotong Kayu di Jerman

Seremoni pernikahan orang Jerman telah dimulai sejak lahir. Setelah melahirkan, orang tua akan menanam kayu sebagai bentuk harapan bahwa kelak ia akan tumbuh dan berguna. Jika sudah dewasa dan siap menikah, kayu akan dijual sebagai modal biaya pernikahan.

Ketika waktunya menikah, kayu juga tidak bisa dilepaskan dari tradisi orang Jerman. Hari pernikahan akan diisi oleh sebuah seremoni potong kayu. Pengantin akan diuji di hadapan para tamu undangan untuk bisa memotong satu bilah kayu dengan gergaji dua sisi. Acara ini dimaknai sebagai unjuk kekompakan pengantin yang baru menikah agar mereka bisa melalui tantangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 188