Debora dan Tiga Kasus 'Pendahulunya', Bukti Pelayanan Kesehatan Belum Membaik

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Lainnya
dipublikasikan 11 September 2017
Debora dan Tiga Kasus 'Pendahulunya', Bukti Pelayanan Kesehatan Belum Membaik

Terkait kasus pelayanan Rumah Sakit terhadap bayi Deborah, beberapa kasus yang hampir sama juga pernah terjadi sebelumnya. Februari 2015 lalu misalnya, bulan ini dianggap bulan yang buruk bagi dunia pelayanan kesehatan Indonesia. Di tengah Indonesia menuju MDGs 2019, 5 orang pasien meninggal karena buruknya pelayanan di RS. Tiga kasus di antaranya adalah sebagai berikut.

Kasus pertama terjadi di Kabupaten Bekasi tepatnya di RSUD Cibitung. Wandi (27) warga Vila Mutiara, peserta BPJS kelas 2 yang menderita infeksi paru paru, menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Cibitung setelah selama 3 hari di IGD tidak ditangani serius dan tidak mendapatkan obat yang dibutuhkan karena obat di RSUD Cibitung habis.

Kasus kedua adalah meninggalnya 2 pasien di RS Siloam Tangerang akibat kesalahan menyuntikkan obat anastesi yang disebabkan label obat dan isinya tidak sesuai. Kedua pasien mengalami gatal-gatal yang disusul kejang-kejang hingga akhirnya meninggal dunia.

Kasus ketiga adalah bayi 12 hari bernama Habibah yang telah wafat di RS Sentra Medika Cikarang. Jenazahnya ditahan oleh pihak RS hanya karena harus membayar 24 juta, sementara orangtuanya hanya sanggup membayat 6 juta.

Rentetan kasus di atas sangatlah memperihatinkan kita semua. Adanya kasus bayi Deborah yang saat ini ramai diperbincangkan, menambah panjang daftar hitam buruknya layanan kesehatan. Di tengah karut-marutnya BPJS dalam menjalankan jaminan kesehatan, ternyata kita masih saja dihadapkan dengan buruknya pelayanan kesehatan yang dijalankan oleh Rumah Sakit. Haruskah masyarakat mempertanyakan kinerja pemerintah dalam mengontrol kualitas pelayanan kesehatan bagi warganya?

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 92