Berita Palsu dan Penyebaran Informasi yang Keliru, Pahami Tiga Hal Ini!

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Lainnya
dipublikasikan 25 Agustus 2017
Berita Palsu dan Penyebaran Informasi yang Keliru, Pahami Tiga Hal Ini!

Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah upaya Google dan Facebook untuk memberhentikan berita palsu akan memiliki dampak signifikan. Tapi cerita palsu yang digambarkan sebagai jurnalisme yang serius sepertinya tidak akan hilang karena mereka telah menjadi alat bagi beberapa penulis untuk menghasilkan uang dan berpotensi mempengaruhi opini publik. Bahkan saat masyarakat menyadari bahwa berita palsu menyebabkan kebingungan tentang isu dan peristiwa terkini, mereka terus mengedarkannya. Mengapa demikian?

Berita palsu membutuhkan waktu penyelesaian lebih lama

Menurut Arkaitz Zubiaga dalam tulisannya yang berjudul “Analyzing How People Orient to and Spread Rumors in Social Media by Looking at Conversational Threads’’ yang dimuat di Plos One Journal, desas-desus yang benar cenderung diselesaikan lebih cepat daripada rumor palsu. Pengamatan ini sejalan dengan akal sehat dan dugaan bahwa membuktikan fakta tidak akurat jauh lebih sulit daripada membuktikan kebenaran. Ditambah lagi, kabar palsu bisa menjadi pesan fiktif yang mengeksploitasi logika fungsional jaringan sosial. Proses penyelesaian yang memakan waktu lebih lama berpotensi memunculkan desas-desus miring lainnya. Sehingga besar kemungkinan memancing dan memanfaatkan kemarahan masyarakat sebelum masalah tersebut dapat diselesaikan.

Pergeseran nilai jurnalisme online

Sebuah media berita cenderung membuat posting-an dengan baik. Mereka biasanya melakukannya dengan pasti dan sering mengutip sumber eksternal sebagai bukti. Terlepas dari usaha untuk membuat pernyataan yang beralasan, sebuah media berita tetap dapat memposting rumor yang akhirnya terbukti salah. Mengutip sebuah sumber, apakah diverifikasi atau tidak, merupakan ambang minimum bagi jurnalis untuk dilihat berpegang pada standar profesional dan karenanya dinilai dapat dipercaya. Temuan ini, pada kenyataannya, mengokohkan pengamatan terhadap etika media digital oleh Stephen J. A. Ward dalam “Digital Media Ethic” yang mengemukakan bahwa nilai-nilai jurnalisme online telah bergeser dari tradisi 'akurasi, verifikasi pra-publikasi, keseimbangan, ketidakberpihakan, dan pemeliharaan gerbang 'Ke' kedekatan, transparansi, keberpihakan dan koreksi pasca publikasi '.

Krisis kepercayaan masyarakat

Tak jarang konten-konten yang berbau SARA banyak bertebaran hampir di semua media sosial. Baik konten yang berasal dari blogspot maupun dari website resmi suatu organisasi. Dengan bahasa yang “meyakinkan”, pembaca seakan-akan terhipnotis untuk tidak mencari kebenaran melalui media lain. Hal seperti ini sangat berbahaya bagi masyarakat awam sekaligus diminati oleh mereka yang paham dengan kondisi masyarakat sekarang, dan ingin melakukan pengendalian sosial melalui media. Fakta ini membuat sebagian kalangan kehilangan kepercayaan terhadap media informasi, khususnya media online. Bila sudah tidak jelas lagi apa yang salah dan apa yang benar, mungkin mereka juga akan kehilangan kepercayaan terhadap pemerintahan.

Terkadang apa yang kita baca dan kita sukai ternyata bukanlah sebuah kebenaran, karena kita tidak bisa bersikap objektif. Berita atau informasi dengan judul yang provokatif atau sensasional, sebaiknya dibandingkan dengan beberapa sumber yang kredibel. Setidaknya pembaca mendapatkan berita atau informasi minimal dari dua sudut pandang yang berbeda.

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 39