Tiga Alasan Pelanggaran Hak Konsumen Jarang Dilaporkan

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Ekonomi
dipublikasikan 09 Agustus 2017
Tiga Alasan Pelanggaran Hak Konsumen Jarang Dilaporkan

Konsumen sering kali menjadi objek yang mengalami kerugian materiil maupun immateriil. Kasus seperti malapraktik dalam pelayanan kesehatan, kesulitan pasien kurang mampu dalam mengakses layanan kesehatan, dan pembayaran barang belanjaan di kasir yang lebih mahal daripada yang tertera di label harga hanya sebagian kasus yang merugikan konsumen. Padahal, sudah ada peraturan yang melindungi konsumen yaitu UU No 8/1999 (UU Perlindungan Konsumen), tetap saja dalam praktiknya konsumen masih menjadi korban. Mengapa demikian?

Pertama, terbatasnya akses informasi atau kesempatan bagi konsumen untuk mengakses informasi yang benar tentang barang atau jasa menjadi sumber awalnya. Selanjutnya, konsumen cenderung tidak memahami bahwa haknya terlindungi dan bisa melapor ke sejumlah lembaga. Ditambah lagi secara psikologis, adanya kemungkinan gugatan balik oleh pelaku usaha juga menyurutkan nyali konsumen untuk merebut haknya. Fenomena ini menjadi preseden sangat buruk bagi konsumen untuk menjadikan dirinya kritis dan berani merebut haknya.

Kedua, kebanyakan konsumen tidak memahami bagaimana merumuskan hasil apa yang diharapkan dari sebuah pengaduan konsumen dan bukti-bukti apa saja yang diperlukan. Pengaduan dan gugatan konsumen harus konkrit, dengan disertai bukti-bukti yang cukup, serta sudah melakukan komunikasi dan mediasi dengan pihak pelaku usaha. Dari hasil tersebut, baru konsumen memutuskan harus mengadu kemana. Di lapangan, ada beragam lembaga pengaduan konsumen. Untuk itu menjadi penting bagi konsumen mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing lembaga yang menerima pengaduan konsumen tersebut.

Ketiga, keberanian konsumen juga masih terkendala oleh minimya tindak lanjut pengaduan. Konsumen belum yakin bahwa pengaduannya akan diselesaikan dan ditindaklanjuti. Sebagai contoh, berdasar survei Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terkait kasus konsumen Transjakarta, hanya 55 persen yang yakin bahwa pengaduannya akan ditindaklanjuti. Sisanya, 45 persen tidak yakin pengaduannya ditindaklanjuti oleh managemen Transjakarta.

Masyarakat dan juga konsumen memang sudah lama mempunyai nyali kuat untuk mengadu, atau bahkan menggugat kepada pemerintah, dan atau pelaku usaha. Namun hingga kini keberanian itu belum mengkristal secara kolektif. Karenanya, keberanian tersebut harus terus dibangunkan. Mereka tak boleh patah arang untuk merebut haknya, kendati menuai gugatan balik.

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 71