Tiga Senjata Tempur Paling Canggih Tapi Tidak Mematikan

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Teknologi
dipublikasikan 09 Agustus 2017
Tiga Senjata Tempur Paling Canggih Tapi Tidak Mematikan

Industri senjata memiliki nilai yang luar biasa. Pada 2016, sekitar US$ 1,686 triliun dibelanjakan untuk senjata dan perlengkapan militer seluruh dunia. Pembelanjaan itu bukan hanya untuk perangkat keras, tapi juga untuk pengembangan litbang demi senjata masa depan, misalnya melalui lembaga penelitian dan universitas. Semua demi kemenangan dalam konflik di masa depan. Salah satu yang terdengar seperti dalam cerita-cerita film adalah senapan yang bisa dibengkokkan sehingga bermanfaat dalam pertempuran dalam suasana perkotaan. Senjata jenis ini pertama kali dipakai oleh Israel Defence Force.

Namun di balik senjata-senjata canggih dan siap tempur itu, ternyata ada juga yang tidak kalah canggih tetapi tidak mematikan. Berikut ulasannya seperti dilansir Listverse.com.

Senapan PHASR

Para penggemar Star Trek mungkin masih ingat kata "Pasang phaser untuk melumpuhkan" dari serial tayangan di masa lalu. Ternyata, di masa kini sudah ada senjata yang mirip dengan itu. Sistem yang dimaksud dikenal sebagai senapan PHASR, singkatan dari Personnel Halting and Stimulation Response. Sistem itu pada dasarnya adalah senapan laser yang tak mematikan (non-lethal) yang dipakai untuk membutakan sasaran untuk sementara waktu agar tidak menerobos pembatas militer. Senjata itu tidak menyebabkan kerusakan tetap, tapi musuh atau sasaran hanya lunglai selama beberapa detik sehingga ada waktu untuk memeriksa keadaan ancaman.

Long Range Acoustic Device

Ada lagi senjata berbasis suara yang dirancang untuk membuat lunglai pihak penyerang atau mengendalikan kerumunan yang rusuh. Alat yang dijuluki "meriam suara" itu sudah dipakai oleh Ferguson Police Department dalam kerusuhan 2014 setelah seorang polisi menembak mati seorang remaja berkulit hitam yang tidak bersenjata. Meriam suara menyemburkan sirene memekakan telinga hingga jarak sekitar 8 kilometer. Akan tetapi, orang yang berada dalam radius 100 meterlah yang paling merasakan dampaknya. Prajurit dan polisi bisa juga menggunakan perangkat itu untuk memancarkan suara komando atau instruksi pada daerah yang luas, sehingga bisa berguna untuk kendali kerumunan maupun situasi tempur.

Taser Shockwave

Sekarang ini sepucuk Taser telah menjadi perangkat standar bagi kebanyakan polisi. Taser merupakan cara efektif dan secara teori tidak mematikan untuk segera melumpuhkan tersangka yang tidak menuruti perintah. Namun, bayangkanlah kalau ada 36 pucuk Taser disusun bersama dalam dua baris, itulah yang disebut dengan Taser Shockwave. Alat itu dirancang untuk menghadapi kelompok, bukan perorangan. Pemanfaatannya juga lebih kepada keperluan polisi, bukan militer. Perangkat itu bisa mengirimkan kejutan listrik yang melumpuhkan dari jarak 100 meter, sehingga petugas bisa menciptakan tembok virtual dan mencegah kerumunan perusuh agar tidak terlalu dekat.

Selama ini kita lebih mengenal senjata sebagai alat yang cukup menyeramkan sekaligus mematikan. Namun ternyata tiga senjata canggih tersebut tidak seseram yang dibayangkan.

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 20