Tiga Lokasi Fiktif dalam Peta yang Pernah Melegenda

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Sejarah
dipublikasikan 07 Agustus 2017
Tiga Lokasi Fiktif dalam Peta yang Pernah Melegenda

Pada masa ketika satelit pengindera geografi belum tercipta atau sistem navigasi belum ditemukan, para pionir penjelajah Bumi kerap melaporkan sejumlah lokasi semu, seperti pulau atau gunung palsu, peradaban mistis, dan lokasi geografis fiktif lain yang pernah menjadi legenda dalam sejarah manusia. Seiring berkembangnya waktu, teknologi navigasi, dan pemetaan, berbagai lokasi maupun peradaban semu lainnya berhasil dibuktikan sebagai sebuah laporan keliru para penjelajah pionir yang mengalami keterbatasan informasi serta ilmu pengetahuan.

Dari berbagai contoh, berikut tiga lokasi fiktif yang dulu sempat dipercaya ada, berdasarkan informasi dari buku karya Brooke-Hitching, seperti dilansir News.com.au.

Selat Anian

Pada masa lalu, para penjelajah sempat membayangkan rute alternatif bernama Selat Anian. Digambarkan dengan sangat rinci dan diadopsi oleh pembuat peta dari Abad ke-16, selat itu dipercaya mampu mempersingkat jalur pelayaran Eropa untuk menuju Amerika bahkan ke Asia. Pada peta tahun 1567 yang dibuat oleh Bolognini Zaltieri, Selat Anian digambarkan sebagai celah sempit dan bengkok yang memisahkan Asia dari Amerika. Namun, pada 1778, pelaut asal Inggris, James Cook membantah mengenai rumor selat tersebut. Lalu kini, rute pelayaran alternatif seperti yang sempat dibayangkan dalam imaji Selat Anian, lebih dikenal sebagai rangkaian jalur pelayaran via Selat Bering, Laut Atlantik, dan Samudera Arktik atau yang secara kolektif bernama The Northwest Passage.

Laut di Tengah Benua Australia

Pada abad ke-19, 42 tahun setelah pendaratan Armada Pertama Inggris di Teluk Botany pada 1788, kawasan interior Australia yang belum dipetakan, merupakan sumber misteri dan juga sumber harapan besar bagi para penjelajah dan calon kolonial. Demi menarik pendanaan penjelajahan dan eksplorasi, Thomas Maslen dari Inggris membuat peta Australia yang penuh harapan, dengan sumber mata air raksasa di tengah benua tersebut. Fakta bahwa kehadiran sungai atau sumber mata air pada umumnya berkorelasi pada penemuan tanah yang subur, menjadi daya tarik bagi para calon penjelajah dan kolonial yang berharap bisa menemukan hal serupa di tengah Australia. Namun, seiring waktu dan eksplorasi lebih lanjut, tak ada satu pun lautan atau sumber mata air luas yang dapat ditemukan di tengah Australia. Yang ada hanyalah --seperti yang kita kenal pada masa kini-- gurun pasir dengan temperatur panas nan gersang.

Pulau California

Fantasi California sebagai pulau surga duniawi dapat ditelusuri kembali ke sebuah buku terbitan tahun 1510 berjudul Las Sergas de Esplandian yang menggambarkan tanah yang penuh dengan wanita Amazon tanpa pria. Mitos hebat ini mendorong penjelajah Spanyol, Hernan Cortes untuk mengirim ekspedisi demi menemukan pulau Amazon. Dalam prosesnya, penjelajah Spanyol berhasil menemukan Semenanjung Baja. Namun, selama bertahun-tahun, Pulau California belum juga ditemukan. Upaya pencarian pun digandakan. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, eksplorasi Spanyol berhasil mengklaim penemuan pulau surga duniawi itu, terletak tak begitu jauh dari Semenanjung Baja. Dan Pulau California mulai muncul pada sejumlah peta pelayaran. Namun, pada 1706, sejumlah keraguan muncul. Melalui sebuah eksplorasi dan pemetaan lebih lanjut, apa yang disebut sebagai Pulau California itu ternyata merupakan Teluk California di Meksiko. Pada 1747, Raja Ferdinand dari Spanyol menyatakan: "California bukanlah sebuah pulau".

*Dikutip dari berbgai sumber

  • view 55