Redenominasi: Tiga Hal yang Harus Dipelajari Indonesia dari Turki

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Ekonomi
dipublikasikan 27 Juli 2017
Redenominasi: Tiga Hal yang Harus Dipelajari Indonesia dari Turki

Sebelum Indonesia yang baru merencanakan redenominasi, upaya ini sudah pernah dilakukan di berbagai negara sejak 1923. Kala itu Jerman memangkas 12 digit angka 0 pada mata uangnya. Itu merupakan rekor redenominasi terbesar sepanjang sejarah. Sejak saat itu, tercatat ada 50 negara yang melakukan redenominasi.

Dalam sejarahnya, pelaksanaan redenominasi memang tidak selalu mulus. Beberapa negara memang tercatat sukses, tapi ada pula yang gagal total. Turki termasuk salah satu negara yang mencatat kisah sukses. Keberhasilan tersebut dijadikan acuan oleh negara-negara lain yang ingin menerapkan kebijakan serupa. Lalu, bagaimana redenominasi Turki bisa sukses?

Pertama, Turki melaksanakan redenominasi pada awal tahun (1 Januari) sehingga seluruh pembukuan anggaran negara maupun perusahaan bisa langsung dicatat dengan menggunakan mata uang baru.

Kedua, Turki melakukannya secara bertahap. Pada tahap awal, Turki menerbitkan pecahan mata uang baru dengan kode YTL atau Yeni Turkey Lira. Yeni merupakan bahasa Turki yang berarti "baru". Setelah redenominasi, Turki memiliki mata uang kertas baru, yakni 1 YTL (menggantikan 1.000.000 TL), 5 YTL, 10 YTL, 20 YTL, 50 YTL, hingga 100 YTL. Agar masyarakat tidak bingung, Turki menerbitkan mata uang baru yang tampilan, warna, atau desainnya serupa dengan mata uang lama.

Ketiga, kuatnya mekanisme kontrol atau pengawasan harga. Beberapa literatur menyebutkan, kunci sukses redenominasi Turki adalah pengawasan ketat pemerintah dalam melakukan stabilisasi harga sehingga ancaman lonjakan inflasi bisa diredam.

Jika dilakukan dengan persiapan matang dan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, redenominasi tentu bisa berjalan dengan baik.

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 115