Tiga Fakta Soal Iklim Perekrutan Tenaga Kerja Asia Tenggara

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Ekonomi
dipublikasikan 10 Juli 2017
Tiga Fakta Soal Iklim Perekrutan Tenaga Kerja Asia Tenggara

Sebagaimana dijelaskan dalam Deloitte 2017 Global Human Capital Trends Report: Talent Acquisition, bagian tenaga kerja dan perekrutan menghadapi tekanan besar. Kekurangan jumlah tenaga kerja dan kemampuan ahli sedang menyebar luas.

Salah satu penyebabnya diduga karena saat ini para pekerja tidak hanya mengharapkan kompensasi finansial yang lebih baik. Mereka juga mencari organisasi-organisasi dengan nilai-nilai yang sesuai, keseimbangan pekerjaan dan hidup, pekerjaan yang punya arti, otonomi kreatif, dan banyak lagi.

Akan tetapi bagaimana tepatnya hal ini mempengaruhi iklim perekrutan di Asia Tenggara? Berikut adalah tiga fakta yang perlu Anda ketahui seperti dilansir Jobstreet.

Kandidat pekerja selalu mencari ada kesempatan karier baru

Dalam suatu kajian terbaru dalam tren perekrutan di Asia tenggara oleh JobStreet.com dan JobsDB (Recruitment Trends in Southeast Asia by JobStreet.com and JobsDB), lebih dari 8.000 calon pekerja dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam diminta untuk membuat peringkat persetujuan dan ketidaksetujuan mereka akan pernyataan berikut: "Saya tidak punya rencana meninggalkan pekerjaan dan perusahaan saya saat ini di tahun yang akan datang".

Mungkin tidaklah mengejutkan, semua kandidat dengan suara bulat setuju dengan pernyataan tersebut, sedangkan hampir semua responden menunjukkan minat yang besar untuk "secara aktif memonitor dan memindai bursa kerja" pada 2017.

Prioritas perekrutan dari para perekrut

Dalam kajian yang sama oleh JobStreet.com dan JobsDB, hampir 3.000 perekrut dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam diminta untuk mengidentifikasi prioritas perekrutan pada 2017 dari sebuah daftar yang tersedia. Di Indonesia dan Malaysia, mayoritas perekrut memilih "mengganti dan mengisi posisi penting" sebagai prioritas perekrutan nomor satu, dengan "memperluas dan mempekerjakan lebih banyak orang" untuk urutan kedua tertinggi.

Sementara mayoritas pekerja di Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam memilih "memperluas atau mempekerjakan lebih banyak orang" sebagai prioritas tertinggi mereka pada 2017. Kecuali Singapura, tiga negara lainnya dalam kelompok ini memilih "mengganti dan mengisi posisi penting" sebagai prioritas tertinggi kedua.

Tenaga kerja yang paling dicari oleh para perekrut

Ketika ditanyai posisi apa yang paling sulit untuk diisi, mayoritas perekrut di Indonesia, Malaysia, dan Filipina setuju supervisor dan spesialis adalah posisi tersulit untuk diisi, sedangkan perekrut dari Singapura dan Thailand menemukan posisi junior adalah posisi tersulit untuk diisi. Vietnam, di lain sisi, mempunyai kesulitan terbesar untuk merekrut manajer.

Waktu terus berubah, dan para perekrut perlu merangkul revolusi digital untuk tetap bersaing sebagai terutama dalam dunia bisnis. Sedang di sisi lainnya, para pekerja dan kandidat pekerja sebaiknya tidak cepat merasa puas. Mereka harus terus menyesuaikan dengan peralatan teknologi dan tren terkini untuk bisa berkembang.

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 53