Anak Anda Mulai Sering Membantah? Lakukan Tiga Hal Ini!

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Inspiratif
dipublikasikan 07 Juli 2017
Anak Anda Mulai Sering Membantah? Lakukan Tiga Hal Ini!

Komentar cerdas, pedas, dan gerak tubuh yang tidak sopan, seperti memicingkan mata dan menggerak-gerakan bibir, tampaknya menjadi masalah besar ketika anak-anak mulai membantah perkataan orangtuanya. Namun sebagai orangtua, bukan berarti Anda punya kuasa untuk langsung marah-marah apalagi sampai membentak.

Cobalah kiat berikut untuk mengatasi perilaku berani dan agak kurang ajar si anak seperti dilansir Parents berikut ini.

Mempertahankan kesabaran

Berteriak, mengancam, atau melontarkan perkataan seperti "Beraninya kau? Aku ibumu!" hanya akan memperparah situasi. Sebaiknya tahan diri Anda, tarik napas dalam-dalam, hitung sampai 10 (atau 20), dan tanyakan pada diri sendiri apa yang akan Anda katakan bisa memperbaiki atau justru memperburuk keadaan. Jika Anda masih merasa kehilangan kontrol, atau jika anak sudah kehilangan kontrol, tetap tenang dan katakan bahwa Anda akan melanjutkan percakapan nanti saat emosi Anda berdua telah mereda.

Menentukan sumber masalah

Membantah tidak selalu merupakan ekspresi anak yang sesungguhnya. Alasannya mungkin berakar pada sesuatu yang tidak berhubungan dengan Anda. Mungkin anak Anda mengalami masalah pelajaran di sekolah atau dengan teman dan membawanya ke Anda karena dia merasa Anda sasaran yang aman. Jika ini terjadi, tetap tenang ajukan pertanyaan untuk sampai ke akar masalahnya. ("Apakah ada sesuatu yang terjadi hari ini di sekolah?" atau "Apakah kamu sedang memerlukan waktu untuk sendiri?") Mengetahui alasan di balik perlawanannya bisa membuat Anda lebih mudah untuk memahami dan menyelesaikan masalah ini.

Memuji kesopanan

Beri perhatian ekstra saat anak menunjukkan perilaku positif. Ini akan membuatnya merasa baik dan membantunya menyadari bahwa orangtuanya juga memperhatikan hal-hal baik. Bagian terbaiknya adalah dia akan berusaha lebih menjaga ucapannya.

Kekeliruan dalam menyikapi anak dapat berujung pada hubungan yang tidak harmonis. Orangtua tentu memiliki lebih banyak pengalaman dalam menghadapi orang lain ketimbang anaknya. Oleh itu, lebih mungkin bagi orangtua untuk menyesuaikan diri terhadap setiap perubahan yang terjadi pada anak.

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 677