Tiga Gangguan Serius Akibat Terlalu Sering Main Smartphone

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Teknologi
dipublikasikan 07 Juli 2017
Tiga Gangguan Serius Akibat Terlalu Sering Main Smartphone

Saat ini, hampir semua orang memiliki smartphone. Laporan SUPR yang dirilis melalui studi Nlelsen Informate Mobile Insight oleh Vserv menemukan bahwa sekitar 61 persen pengguna smartphone di Indonesia berusia kurang dari 30 tahun. Laporan tersebut juga menemukan bahwa pengguna smartphone menghabiskan waktu rata-rata 129 menit per hari. Bahkan, satu dari lima pengguna smartphone di Indonesia mengkonsumsi data sekitar 249 MB/hari, sehingga masuk ke dalam kriteria penggila/rakus data.

Studi HealthDay News seperti dilansir everydayhealth.com menyebutkan bahwa smartphone dapat meningkatkan stres karena sering kali membuat Anda merasa perlu untuk segera meninjau dan merespons setiap pesan atau pemberitahuan yang masuk. Selain itu, ada beberapa hal yang dapat Anda alami jika terlalu banyak menggunakan smartphone.

Phantom Vibration Syndrome

Pernahkah Anda merasa smartphone Anda bergetar atau mengira telepon berdering padahal sebenarnya tidak? Jika iya, Anda bisa saja mengalami phantom vibration syndrome. Studi menemukan bahwa semakin cemas Anda untuk tetap terhubung melalui smartphone, maka semakin besar kemungkinan Anda akan salah menafsirkan rasa gatal sebagai pemberitahuan adanya pesan/panggilan masuk.

Nomofobia

Apakah ketinggalan smartphone adalah hal yang paling Anda takuti? Jika iya, maka bisa saja Anda mengalami nomofobia. Nomofobia adalah suatu sindrom ketakutan jika tidak memiliki handphone. Studi tahun 2015 menemukan bahwa seseorang yang sedang melakukan aktivitas di saat ponselnya berdering menjadi lebih sulit konsentrasi bahkan meningkatkan kecemasan.

Fear of Missing Out (FOMO)

FOMO adalah rasa takut ketinggalan informasi terbaru dari internet atau media sosial. Studi dari University of Essex menemukan bahwa ciri-ciri orang yang sudah terjangkit FOMO adalah mereka yang selalu mengecek akun media sosial setiap saat untuk melihat apa saja aktivitas yang dilakukan orang lain, bahkan sampai mengabaikan aktivitasnya sendiri. Akibatnya, mereka yang mengidap FOMO akan lebih sering membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dapat membuat mereka merasa tidak bahagia, iri, bahkan depresi.

Kemajuan teknologi sangat mungkin membuat Anda lupa bahwa sebenarnya teknologi ada untuk memudahkan manusia. Oleh itu, upaya pemanfaatan secara pintar tentu lebih bijak daripada membiarkan diri Anda terjebak dalam ketergantungan.

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 151