Tiga Langkah Merawat Imajinasi Anak

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Inspiratif
dipublikasikan 29 Mei 2017
Tiga Langkah Merawat Imajinasi Anak

Saat anak-anak menggambar sapi berwarna hijau atau singa merah jambu, apa yang akan Anda lakukan?

Orangtua pada umumnya akan menegur, "Nak, tidak ada sapi berwarna hijau" atau “Nak, singa tidak ada yang berwarna merah jambu." Itu adalah "aturan" di ruang nyata atau ruang pengetahuan. Di ruang imajinasi, sapi maupun singa boleh berwarna apa saja.

Anak-anak melihat berbagai bentuk dan warna. Mereka menerjemahkan bentuk dan warna itu dalam ruang imajinasi secara bebas. Bentuk bundar, misalnya, bisa diterjemahkan sebagai donat, kue, telur, lubang, bulan, dan sebagainya. Tapi orang tua yang gatal akan membatasi bentuk bulat itu menjad huruf o saja. “Nak, ini huruf o,” maka anak akan memberi makna pada bentuk bulan sebagai huruf o.

Pada anak-anak di masa pertumbuhan, penumbuhan imajinasi menjadi jauh lebih penting. Imajinasi anak pada dasarnya tanpa batas. Maka situasi ini harus dirawat. Anak-anak harus dibiarkan, bahkan dirangsang untuk berimajinasi tanpa batas. Banyak cara yang bisa Anda lakukan agar imajinasi anak tetap terjaga dan membuatnya terus berkembang.

Pertama, perbanyak aktivitas di luar ruangan. Biarkan anak-anak bermain bebas di ruang terbuka. Selain membantu perkembangan motorik, aktivitas bergerak di luar ruangan akan merangsang imajinasi anak. Ciptakan skenario dalam bermain. Rangsang mereka untuk membayangkan diri mereka sebagai apa saja, guru, dokter, polisi, malaikat, superhero, dan sebagainya.

Kedua, lakukan aktivitas verbal. Ajak anak-anak berbincang, tanya jawab, bercerita, dan sebagainya. Dorong mereka untuk berbicara, tidak sekedar mendengar. Dalam mendongeng, ceritakan dongeng secara interaktif, di mana anak-anak bisa terlibat mengatur jalan cerita. Beri kesempatan pada mereka untuk membuat dongeng sendiri.

Ketiga, rangsang dengan pertanyaan open ended dan menantang. Open ended artinya memungkinkan jawaban beragam. Misalnya, jangan tanya 3+4 sama dengan berapa, tapi tanya 7 adalah penjumalahan berapa dengan berapa. Demikian pula dalam subjek lain, rangsang anak untuk memikirkan sejumlah alternatif jawaban.

Selain bisa merawat imajinasi anak, ini juga bisa membuat jalinan komunikasi yang lebih baik antara orangtua dan anak. Dengan begitu, Anda bisa memberikan bekal pengetahuan sejak dini pada anak tanpa kecenderungan yang akan membatasi mereka.

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 61