Tiga Negara dengan Polusi Cahaya Terparah di Dunia

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Lainnya
dipublikasikan 22 Mei 2017
Tiga Negara dengan Polusi Cahaya Terparah di Dunia

Para ilmuwan meyakini bahwa sepertiga penduduk Bumi tak dapat melihat Milky Way atau Galaksi Bima Sakti pada langit malam hari, demikian menurut penelitian yang dipublikasi dalam jurnal Science Advances.

Lampu terang-benderang di malam hari ternyata sangat berpotensi menjadi sumber polusi cahaya. Polusi cahaya memiliki efek langsung pada psikologis dan tingkah laku manusia. Menurut penelitian yang dilakukan pada 2007, polusi tersebut dapat mengubah ritme sirkadian dan memengaruhi produksi beberapa hormon. Hal tersebut juga dapat mengganggu siklus tidur dengan menekan penciptaan melatonin dan meningkatkan kortisol, hormon yang terkait dengan stres.

Terkait parahnya polusi cahaya ini, beberapa negara dinobatkan sebagai negara dengan polusi cahaya terparah di dunia. Negara yang menduduki peringkat pertama dengan polusi cahaya terparah di dunia adalah Singapura. Beberapa lokasi yang menyumbang paling banyak polusi cahaya di negara tersebut adalah Marina Bay Sands dan Bandara Internasional Changi. Itulah yang terungkap dalam penelitian bertajuk The New World Atlas of Artificial Night Sky Brightness oleh Science Advances.

Singapura telah menggunakan lampu alias cahaya buatan melebihi level polusi cahaya per kapita yang bisa ditoleransi. Berdasar penelitian tersebut, level polusi cahaya di Singapura sudah mencapai 100 persen. Posisi itu disusul dengan Kuwait yang mencapai 98 persen dan Qatar 97 persen. Malam tidak berbeda dengan siang karena sama-sama terang. Dengan polusi cahaya yang sangat tinggi tersebut, anak-anak di sulit menikmati keindahan galaksi bimasakti dari rumah-rumah mereka.

Salah seorang peneliti dari German Research Centre for Geosciences, Potsdam, Jerman, Dr Christopher Kyba, menjelaskan bahwa cahaya buatan berasal dari banyak hal.

''Lampu jalan adalah komponen yang penting. Tapi, ada juga lampu dari jendela rumah, kantor-kantor, lampu mobil, dan cahaya dari papan iklan,'' ujar Kyba.

Meski lampu jalanan cukup penting, banyak cahaya yang tidak diperlukan. Misalnya saja, yang menyorot terlalu ke atas. Polusi cahaya yang berlebihan itu mengakibatkan cahaya bintang-bintang pudar. Efek lainnya adalah terganggunya penelitian astronomi dan ekosistem. Oleh itu, para peneliti menyarankan masyarakat untuk menggunakan lampu secara minimum agar dapat meminimalisir polusi cahaya.

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 602